THE LEGEND OF ZORRO : Kisah tentang Ayah, Ibu dan Anak.




Oleh: Adriano Rusfi

Sepasang anak manusia dipersatukan oleh sebuah kebersamaan. Begitu pulalah dengan Alejandro (diperankan oleh Antonio Banderas) dan Elena (diperankan oleh Catherine Zeta-Jones), pasangan tampan dan cantik asal Meksiko di setting abad 19. Keduanya dipertemukan oleh derita kemanusiaan, karena keduanya adalah pejuang kemanusiaan.

Tapi itu dulu, sebelum mereka berkeluarga. Kini keduanya telah dikaruniai seorang anak laki-laki, Joachim (diperankan oleh Adrian Alonso). Maka Elena harus memutuskan untuk berpisah peran : tinggal di rumah dan mengasuh anak. Sedangkan Alejandro, ia harus tetap sibuk dengan perjuangannya. Bahkan ia semakin sibuk untuk menjadi seorang Zorro, karena nun di luar sana masih begitu banyak hal yang harus dibela dan diperjuangkan. Seringkali ia harus meninggalkan keluarganya ketika dentang-dentang lonceng telah memanggil elan juangnya.

Kini Alejandro semakin asyik untuk menjadi Zorro. Sumpah lamanya untuk hidup demi keluarga seakan ia khianati. Ia begitu populer di mata publik, namun sekaligus terasing di mata istri dan anaknya. Istri dan anaknya telah dinomordoakan oleh suara lonceng. Ia bahkan tak tahu nama guru dari anaknya. Kalau toh ada yang ia tinggal di rumah, maka itu adalah Joachim, anak semata wayangnya. Ya, Joachim adalah titisannya : bengalnya, lincahnya, dan kegelisahannya terhadap ketidakadilan. Sang anak memang asing dengan sosok ayahnya sendiri, tapi sekaligus pengagum berat atas Zorro : peran yang dimainkan dengan sembunyi oleh ayahnya sendiri.

Sungguh, ini adalah kisah klasik sebuah rumah : tentang suami dan istri yang gagal dipersatukan oleh peran-peran, lalu dipecah-belah oleh prasangka. Ini akan selalu terjadi ketika sebuah keluarga gagal untuk menjawab sebuah visi : rumah tangga itu untuk apa ? Apakah suami-istri-anak hanyalah untuk dan demi keluarga, ataukah sebuah keluarga tegak untuk bangsa, ummat, kemanusiaan dan dunia ? Apakah rumahtangga adalah sebuah entitas tunggal yang mandiri, atau ia seharusnya diperlakukan sebagai sebuah batu bata bagi terbangunnya sebuah peradaban ?

Alejandro memang seakan sering mengabaikan keluarganya, demi peran Zorro, demi sebuah California. Tapi tidak ! Ia justru terpaksa memakai topeng dan menyembunyikan identitas aslinya demi untuk melindungi keluarganya. Ya, Alejandro adalah seorang suami dan ayah yang hebat sejak hari pertama. Identitas Zorro ada karena ia harus membela negara dan keluarganya pada saat yang bersamaan. Itulah yang akhirnya disadari oleh Elena, sang istri. Ketika iapun terpaksa melakukan misi terselubung demi negara dan agar identitas suaminya tak dipapar oleh dua agen Pinkerton.

Memang betul, keberpihakan seorang suami dan ayah terhadap keluarganya seringkali tak terbaca pada situasi normal. Tapi lihatlah ! Saat situasi darurat dimana Elena dan Joachim terancam, maka saat itulah Alejandro “Zorro” de la Vega, dan para suami lainnya bertanggung jawab, membuka misteri yang menyelubungi perannya : bahwa ia tak pernah sekalipun menduakan keluarganya. Zorro bersama kuda Tornado yang sering dicemburui oleh istrinya itu akhirnya melompat ke atas sebuah kereta penuh Nitroglycerin yang menyekap istri dan anaknya. Ia akhirnya berhasil membebaskan istri dan anaknya, lalu ketiganya berhasil menyelamatkan masa depan California.

Begitulah, kehidupan dunia memang sering memaksa kita untuk memainkan peran-peran misterius yang dapat menimbulkan berbagai prasangka dalam rumahtangga. Dan yang dapat mengatasi itu semua hanyalah cinta. Ya, hanya cinta yang dapat menghadirkan baik sangka.

0 Comments