Sepele Dan Singkat Tapi Itu Konsep


Oleh Kiki Barkiah

Sambil melipat mukena kuperhartikan anak-anak bermain dengan salah satu kerabat kami. Lalu kudengar anak kerabat berbicara pada anak saya karena kesal dengan jahilan Faruq. "Kamu jangan gitu, nanti kita gak temenan ya" Saya pun segera menasihati Faruq agar menghentikan perbuatan isengnya. Namun setelah itu saya tersenyum dan merenung. Betapa banyak kalimat singkat dari lingkungan dipelajari dan di adopsi oleh anak-anak namun sesungguhnya mengandung konsep yang kadang berakibat serius.

Sering sekali kita mengancam anak yang berperilaku buruk dengan tidak mau berteman dengannya. "Adek, kita gak usah temanin kakak yuk!" "Kita gak temenan ya" Kalimat ini jika ingin dicerna mendalam, sebenernya kita sedang mengajarkan anak untuk bermusuhan atau memutus silaturrahim saat kita tidak suka dengan orang lain. Maka bisa jadi para tetangga yang jika mereka marah, mereka saling bermusuhan dan tidak mau bertegur sapa, mungkin karena sejak kecil orang tua mereka mengajarkan konsep ini. Dalam situasi sulit yang sama saya biasanya memilih kalimat ini "Abang sepertinya abang belum siap bergabung bermain, silahkan abang tenangkan diri dulu, kalo sudah bisa bekerjasama dengan baik, sudah bisa mengontrol diri dari mengganggu orang lain, abang boleh bergabung lagi" Biasanya anak saya langsung menahan diri untuk tidak meneruskan jahilannya. Dalam keadaan tidak menurut dan belum mampu mengontrol dirinya, saya akan mengangkat tubuh anak saya dan memisahkan dia untuk sementara sampai ia mau bermain dengan cara yang baik. Konsepnya bukan memutuskan silaturrahim atau bermusuhan sementara, konsepnya adalah meminta anak menenangkan diri dan kemudian mengijinkannya kembali bergabung jika ia sudah dapat mengontrol perilakunya. Dalam keadaan yang lebih tenang saya juga biasa memberi pengertian kepada anak "Abang ummi khawatir kalo abang seperti itu nanti temen-temen abang tidak nyaman bermain sama abang. Abang sedih kan kalo main sendiri" Konsep tidak mau bermain sementara waktu dengan konsep tidak mau berteman itu berbeda.

Ada kisah lain, seorang anak berusia 2 tahun menjadi sangat mudah takut dengan laki-laki dewasa selain ayahnya. Setelah diselidiki, dulu saat diurus oleh pembantu, anak yang memang sulit makan ini sering diancam agar mau makan dengan ditakut-takuti satpam. "Ayo....ayo..... makan, tuh takut tuh ada bapak satpam" Alhasil iya merasa bahwa satpam dan laki-laki dewasa lain adalah ancaman baginya. Untuk sebuah tujuan jangka pendek, kalimat ini telah mengorbankan banyak kepentingan jangka panjang. Ternyata waktu yang dibutuhkan untuk mengobati traumatik anak dengan laki-laki dewasa jauh lebih panjang dibanding bersabar membujuk anak makan dengan cara yang lain.

"Adek jangan nakal, nanti kakak telpon polisi lho" Kalimat ini dilontarkan seorang kakak kecil kepada adik batitanya. Tentu saja sang kakak kecil pasti berguru pada orang dewasa. Kelimat ini singkat dan seolah sepele, tapi sering sekali dilontarkan orang tua untuk mendisiplikan anak mereka. Hallo ayah ibu....... anak-anak kita bukan makhluk kecil bodoh yang mudah ditipu sesaat. Mereka belajar dari setiap kalimat yang kita ucapkan. Maka wajar jika dalam bayangan sebagian warga negara ini, oknum polisi digunakan untuk menakut-nakuti, untuk menjadi backing akan sebuah kepentingan tertentu. Salam maaf kepada seluruh polisi yang tak bersalah, yang sering sekali menjadi korban para orang tua yang kurang waktu untuk berkomunikasi sedikit lebih panjang, sehingga banyak anak-anak menjadi takut kepada polisi.

Anak-anak memang memiliki pola pikir yang lebih sederhana. Mereka cenderung mengambil kesimpulan singkat. Seperti lebih mudah berkata "Kata ibu guru, itu gak boleh" Padahal ibu guru sudah menjelaskan bahwa larangan itu datang dari Rasulullah saw. Anak-anak saya juga sering meningatkan sodaranya "Jangan begitu nanti dapat warning lho dari ummi!". Padahal ada penjelasan mengapa sebuah sikap dinilai patut diberikan peringatan oleh saya. Ya begitulah anak-anak, kesimpulannya sering lebih sederhana. Namun kita tetap harus menjaga lisan kita untuk selalu mengutarakan konsep yang benar kepada anak-anak kita berapapun usia mereka.

"Tuh...tuh.... ada cicak....cicak....cicak....cicak!" Lalu saat anak beralih perhatiannya mencari cicak, kita melakukan sikap tertentu sesuai kepentingan kita. Benarkah ada cicak? Jika tidak, berarti kita sudah berbohong pada mereka. Hallo ayah ibu..... anak kita adalah makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Mereka punya akal pikiran untuk menerima dan mengolah informasi. Mereka juga pada akhirnya dapat mengerti jika orang tua mereka berbohong pada mereka. Satu kalimat singkat dan sepele ini mungkin kadang berhasil membantu kita menyelesaikan kepentingan kita. Entah membuat anak menangis jadi diam, yang bertengkar jadi lupa, yang berebut mainan jadi teralihkan, atau bahkan dalam keadaan bingung mencari cicak, orang dewasa berhasil menipu anak dan memasukkan suapan nasi selanjutnya. Ya! kita sering berhasil dengan cara ini, tapi sesungguhnya kalimat singkat ini mengajarkan anak sebuah konsep bahwa kita boleh sedikit berbohong untuk meloloskan kepentingan kita. Terkadang pengalihan anak balita perlu dilakukan dalam keadaan sulit. Namun pastikan jangan mengalihkan perhatian mereka dengan kebohongan. Mungkin kita bisa mengangkat tubuh mereka lalu membawa mereka keluar untuk mencari sesuatu yang menarik di luar rumah supaya ia lupa bahwa ia sedang berebut mainan dengan kakaknya. Tapi ini akan berbeda efeknya jika secara instan membohongi mereka. Dibanding kita mengatakan "ibu gak punya uang" saat anak minta sesuatu, mungkin lebih baik kita mengganti dengan redaksi "Sekarang belum ada budjet untuk beli itu. Uang ibu untuk keperluan yang lain". Kita juga bisa secara lugas mengatakan ketidaksetujuan kita akan suatu produk. Sehingga meski ada uang atau tidak ada uang, anak akan paham bahwa kita tidak akan membelikannya. Dibanding kita mengatakan "Udah habis" saat anak meminta permen atau coklat lagi yang sesungguhnya masih ada, mungkin lebih baik kita mengganti redaksinya dengan "Maaf sudah habis jatah hari ini. Sisanya untuk lain kali ya".

"Eh bapak bentar lagi pulang. Ayo cepet mandi, nanti dimarahin bapak lho!" Sering sekali kita mendisiplinkan anak dengan membuat sosok salah satu orang tua menjadi sosok yang layak untuk ditakuti dan dihindari kemarahannya. Padahal untuk sebuah kepentingan yang sama kita bisa memilih redaksi "Bapak bentar lagi pulang, ayo mandi! Pasti bapak seneng kalo pas cium, anak-anaknya sudah bersih dan wangi semua." Tentu kalimat ini akan memberi efek kesan yang berbeda. Pada kalimat yang pertama, anak diharapkan akan melakukan sesuatu karena rasa takut. Sementara yang kedua kita berharap anak melakukan sesuatu untuk membahagiakan orang lain. Jika kalimat pertama lebih sering diucapkan, maka wajar jika kemudian anak balita tidak suka membangun kedekatan dengan ayahnya. Sampai kemudian ia bisa menilai sendiri bagaimana pribadi sang ayah yang sesungguhnya.

Sahabat, terkadang karena kesibukan kita, kita lebih memilih cara instan untuk mendisiplinkan mereka. Padahal anak-anak pada akhirnya akan memiliki kemampuan untuk mencerna perintah Allah dari Al-Quran, anjuran nabi melalui hadist, dan memiliki kemampuan untuk mencerna alasan logis dan sebab akibat sebuah perbuatan. Memang mereka memiliki kemampuan yang bertahap dalam mencerna kalimat. Jika dalam tahapan usia tertentu kita perlu menyederhanakan kalimat, maka sederhanakanlah kalimat dengan tetap mengandung kebenaran. Betulkah kita tega meninggalkan anak sendirian di rumah sebagai ancaman karena ia nakal? Ataukah hanya ancamana kosong agar anak menurut? Sampaikan saja bahwa kita baru akan pergi jika mereka sudah bersikap tertib dan mengikuti aturan. Betulkah nasi akan menangis jika tidak dimakan? Ataukah itu dilarang karena sesungguhnya termasuk perbuatan mubadzir yang dilarang Allah dan Rasulullah SAW? Sampaikanlah kelimat kebenaran dengan redaksi yang sederhana. Karena kebenaran adalah sesuai fitrah manusia dan manusia akan lebih mudah mencernanya. Insya Allah. Sahabat, semoga Allah menjaga lisan kita dari kalimat singkat dan sepele namun mengajarkan konsep yang salah bagi anak-anak kita.

0 Comments