Matrikulasi IIP NHW 1, Adab Menuntut Ilmu



Jika Hari Ini Saya Ditanya: Apa Cita-Citamu?
Saya Ingin Jadi Ibu.

Belum terlambat untuk menyelami peran ini meskipun sulung kami yang spesial ini sudah hampir menginjak 5tahun. Saya dititipkan Allah anak spesial dengan kasus cerebral palsy hemiplegi dan beberapa kasus ikutannya yaitu epilepsi dan gangguan persepsi. Saya pernah depresi dengan kondisi ini. Saya yang merantau dan tinggal berjauhan dengan orang tua sehingga semuanya harus mengurus sendiri. Apalagi uang tabungan dan aset kami terkuras habis tak bersisa hanya untuk mencarikan solusi demi kesembuhan si sulung. Saya sering membanding-bandingkan anak orang lain dengan si sulung. Oh anak A sudah pandai mengobrol, anak saya? Wah anak B sudah pandai makan sendiri, anak saya? Duh si C menggemaskan sekali sudah bisa pakai baju sendiri, anak saya? Ah..taulah bagaimana.

Saya semakin jauh tenggelam meratapi ketertinggalan tumbangnya. Saya sering sakit lalu opname beberapa hari, dan itu terjadi berkali-kali.
Dalam keterpurukan itu saya akhirnya menyadari bahwa saya semakin tidak fokus dengan pengasuhan si sulung. Saya marah dan menyesali waktu yang telah saya lewati ternyata sia-sia. Saya yang menyia-nyiakan kesempatan dan kesehatan yang Allah beri pada saya. Saya menatap wajahnya saat ia kelelahan bermain lalu tertidur, ada rasa getir di kerongkongan, pahit dan perih rasa bersalah menjadi satu. Bukankah hanya saya yang jadi tumpuan si sulung? Bukankah hanya saya dunianya? Jika saya ternyata justru menjadi tempat yang paling membuatnya tidak nyaman, lalu kepada siapa cintanya harus berlabuh? 

Ah, ada banyak sekali momen yang dulu saya abaikan. Ketika si sulung sukses belajar jalan untuk yang kedua kalinya setelah kelumpuhannya, saya menganggap itu biasa saja dan sudah seharusnya. Saat kemampuan bicaranya akhirnya bisa kembali setelah terapi rutin beberapa bulan, saya tidak terlalu antusias dengan hasilnya. Wajar, karena bayar terapis wicarapun tidak murah. Itu saya yang dulu. Saya memohon ampun kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya atas kesalahan tersebut.

Saya tidak ingin lagi melewatkan secuilpun momen tumbuh kembang si sulung. Saya sudah memaafkan diri saya sendiri. Saya pun sudah memaafkan kedua orangtua saya yang dulu saya pernah menyimpan marah dan kecewa. Biarlah peran ini saya jalani sebagai lembaran baru. Lembaran baru yang dimulai dengan ilmu yang saya miliki hari ini. Bukan yang saya warisi dari luka-luka pengasuhan masa lalu, melainkan ilmu yang saya dapatkan dengan belajar dari mereka yang sukses menjalankan amanah pengasuhan dengan sebaik-baiknya.

Jadi, jurusan apa yg ingin saya tekuni disisa usia saya? Saya ingin belajar ilmu keibuan dalam arti yang sebenarnya. Sebagai self healing, sayapun ingin berbagi bukan hanya kepada anak yang lahir dari rahim saya, tapi semua anak bahkan semua orang. Bukankah semua kita berhak mendapatkan pengasuhan yang baik? Semua kita berhak untuk dicintai bagaimanapun kondisinya.


Semua orang berhak untuk dicintai, tanpa harus di periksa terlebih dahulu apakah ia pantas menerimanya atau tidak. (Tedd Hoffler)


Beruntungnya, karena Allah memberikan saya seorang suami dengan kabel pengasuhan yang benar. Yang darinya saya belajar berkata lemah lembut, belajar marah yang benar, belajar mengapresiasi apapun kebaikan pasangan dan anak, belajar sabar dan menerima kekurangan pasangan, belajar menerima kondisi anak seutuhnya.

Bersama suami, saya bertekad untuk terus belajar tentang pengasuhan dan pendidikan anak. Kami harus terus berkembang dan bersinergi. Kami rutin mengikuti kelas-kelas parenting, sering berkonsultasi dengan psikolog tumbuh kembang anak, mengikuti seminar-seminar tentang pendidikan anak, bahkan di Bandung kami membina komunitas orang tua dengan anak spesial yang kami harapkan bisa menjadi sarana edukasi baik untuk keluarga kami sendiri maupun semua anggota komunitas. Setiap 2 minggu kami berkumpul, mendatangkan narasumber terkait dengan tema yang ingin kami pelajari di minggu itu, lalu mendiskusikannya bersama-sama. Begitulah akhirnya saya dan suami menjalani peran peradaban ini. Dan jika akhirnya kami memutuskan untuk melakukan home edu untuk si sulung, itu juga sebagai sarana belajar kami orang tuanya.

Sebagai pembelajar, adab menuntut ilmu tentunya menjadi perhatian utama bagi kami. Bukan hanya adab terhadap guru, tapi juga adab terhadap sesama pembelajar, bahkan adab terhadap buku. Doakan agar kami sekeluarga menjadi keluarga pembelajar yang istiqomah menjunjung tinggi adab dan akhlak yang baik.

Hasiah Zen,
Wonosobo 02/02/19

0 Comments