Anakku Speech Delay?


"dadabrrr cui keo nana"
"Mama tata numnum ninih"
❓Duh! Anakku ngomong apa sih?
❓Kok ngomongnya cedal?
❓Udah hampir dua tahun kenapa belum bisa ngomong?
❓Gimana sih perkembangan yang normal?

Pernahkah bunda mengalami keresahan seperti diatas saat membersamai ananda?

Ternyata, bahasa merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, dan kemampuan berbahasa yang baik juga berkaitan dengan kecerdasan seseorang lho. Bukan cuma itu, keterampilan berbahasa juga punya andil besar dalam pengelolaan emosi anak. sering kan kita menyaksikan anak yang tantrum karena merasa orang tua tidak memahami keinginannya? Di sinilah butuhnya orang tua untuk belajar, kapan harus merasa cemas dengan perkembangan bahasa anak dan kemana harus bertanya.

Pada dasarnya, speech delay tidak pernah dikenal dalam konsensus medis. Speech delay sendiri hanyalah istilah yang digunakan orang tua untuk menyebut anak yang mengalami gangguan berbahasa.

Gangguan bahasa sendiri di bedakan menjadi dua, yaitu GBE dan GBER.
GBE adalah dimana kemampuan anak berbahasa ekspresif tidak sesuai dengan milestone, tapi pemahaman bahasa dan tumbuh kembangnya sesuai dengan usia.
Apa sih bahasa ekspresif? Yaitu kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual maupun auditori.
Sederhananya, anak sudah memahami apa yang dikatakan lawan bicara tapi belum bisa menyampaikan dengan jelas lewat kata-kata maupun bahasa tubuh.

Sedangkan GBER artinya pemahaman (reseptif) anak yang mengalami G.B.E.R tidak sesuai usianya (di bawah usianya). Apabila kemampuan reseptif terganggu, maka otomatis kemampuan eksresif pun terganggu. 
Artinya, anak memang tidak memahami apa yang disampaikan lawan bicara, sehingga anak juga tidak dapat membalas respon melalui bahasa ekspresif.
Noted: semua kasus GBER selalu di ikuti underlying disordernya atau diagnosa lain yang menjadi akar masalah gangguan bahasanya misal: ASD, MR, CP, Down syndrome dll.
Namun, tidak semua anak istimewa di atas selalu di ikuti juga dengan GBER, ada juga yang hanya mengalami GBE. Contohnya ananda kami. 

Wawa adalah putri istimewa kami, penyandang Cerebral Palsy Hemiplegia. Dulu sempat mengalami GBE sehingga harus terapi wicara mulai usia 30 bulan. Bahkan itu sebelum tegak diagnosa CPnya sendiri. Dan dari situ saya menyimpulkan bahwa GBE yang dialami ananda saat itu adalah karena faktor fisiologis. Kerusakan pada sebagian otaknya yang menyebabkan perkembangan bahasa Wawa menjadi lambat.

Sekilas tentang milestone perkembangan bahasa

"ah, ngga apa-apa. Nanti juga bisa ngomong kok."
Begitu respon sebagian orang tua saat anaknya belum mengeluarkan bahasa sederhana layaknya anak seusianya. Padahal, orang tua sebaiknya memahami terlebih dahulu tahapan perkembangan bahasa pada anak sejak bayi, agar dapat menenangkan diri dengan benar saat gejala gangguan mulai terlihat. 



Pertama, sejak usia 4 hingga 6 bulan sebetulnya bayi sudah mulai menunjukkan keterampilan berbahasanya dimulai dengan kemampuan menggumam (cooing). Menggumam adalah bahasa ekspresif yang paling sederhana yang digunakan bayi untuk memanggil, menunjukkan ketertarikan dan menyampaikan sesuatu.

Kedua, maksimal pada usia 12 bulan bayi sudah harus babling (mamama, bababa...). Ini adalah tahap berikutnya dimana bayi mulai belajar huruf konsonan dasar (B, D,M, P) sebagai bekal untuk mengeluarkan suku kata sederhana di bulan berikutnya.

Ketiga, pada usia 12 hingga 15 bulan bayi mulai dapat memahami perintah sederhana. Misal kalimat 'jangan!' atau 'kemari'. 

Keempat, diusia 18 bulan setidaknya bayi sudah menguasai setidaknya 20 kata berarti. Maksudnya, bayi bukan hanya mampu menyebutkan (walaupun kata-kata yang terucap hanya satu suku kata), tapi juga mengerti maknanya. Contoh: kata 'cing' untuk menyebut kucing, bayi tahu bahwa kucing adalah hewan berbulu yang sering dia lihat di rumah.

Kelima, bayi sudah menguasai setidaknya 50 kata berarti pada usia 24 bulan dan mulai mengucapkan 2 kata misal: mau mandi (sekalipun pengucapan belum jelas dan terpotong suku katanya). Mampu mengenali objek yang sering dilihat atau didengar, dan mampu menyebutkan nama objek.

Keenam, memasuki usia 3 tahun setidaknya bayi sudah bisa mengucapkan kalimat sederhana terdiri dari minimal 2 kata atau lebih, dan sudah mampu memahami kalimat perintah yang lebih kompleks. Contoh: Tolong letakkan buku ini di atas meja.

Faktor Penyebab Gangguan Bahasa





*Adanya gangguan pada indera pendengaran. Ini bisa terlihat dengan respon anak terhadap bunyi. Agar lebih yakin bisa dilakukan tes pendengaran oleh dokter tumbuh kembang.

*Gangguan perkembangan otak juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab anak menjadi terlambat bicara. Bisa jadi sambungan-sambungan dendrit di otak anak yang mendukung kemampuan oralnya menjadi rusak akibat virus, cidera atau faktor lain. Konsultasikan dengan dokter anak jika mendapati tanda-tanda ini.

*Anak minim komunikasi. Orang tua yang jarang berinteraksi melalui mengobrol dengan balitanya, maka ini pun akan menyebabkan anak terhambat perkembangan bahasanya. Jadi, ayah bunda perbanyak interaksi dengan ananda yuk.

*Gadget dan televisi. Mengapa gadget dan televisi mengganggu perkembangan bahasa? Karena gadget tidak memberikan interaksi dua arah yang dibutuhkan anak. Sehingga bahasa ekspresif anak tidak dapat keluar dengan baik.

*Bilingual. Penggunaan dua bahasa di keluarga, atau kondisi baru pindah ke daerah yang berbeda juga kadang menjadi hambatan anak dalam berbahasa. Maka, sebaiknya perkenalkan dan berbicaralah menggunakan bahasa ibu pada anak.

*Keturunan. Jika ayah atau ibu pernah mengalami gangguan bahasa saat kecil, maka ananda memiliki kemungkinan mengalami masalah yang sama.

Apa Yang Sebaiknya dilakukan Orang Tua?

Saat orang tua menyadari adanya gangguan bahasa pada anak, maka segeralah berkonsultasi dengan profesional. Bisa ke dokter tumbuh kembang atau ke psikolog. Jangan takut dengan wacana negatif yang muncul dari orang sekitar, bukankah akan lebih baik jika di tangani lebih awal? 

Perbanyak interaksi dengan anak seusianya. Dengan begitu, akan memunculkan rasa percaya diri anak. Tapi, justru tidak disarankan untuk buru-buru menyekolahkan anak. Sebab, alih-alih memunculkan rasa percaya diri yang ada justru membuat anak minder dengan banyaknya interaksi di sekolah. Saat temannya A bisa dengan mudah memahami keinginan teman B, tapi itu tidak terjadi dengan dirinya.Lagi, orang tua adalah terapis terbaik bagi anak.

Seringlah membacakan buku untuk anak. Tidak selalu harus menjelang tidur, kapanpun anak senggang orang tua bisa mengajak anak berinteraksi dengan buku. Atau bisa juga dengan mendongeng, bercerita dengan benda/boneka/wayang dan sebagainya. Menyanyikan lagu juga bisa jadi stimulasi yang bagus loh. saya pernah menemui anak yang bicaranya tidak lancar, tapi justru sudah hafal puluhan lagu, berbahasa Inggris pula. Selain itu permainan yang titik beratnya meniup juga sangat disarankan untuk anak dengan gangguan bahasa. Misal meniup terompet, peluit, gelembung sabun, dan lain-lain. Kenapa? Karena latihan meniup dapat memperkuat oral motornya. Kemampuan bicara sangat didukung oleh fungsi oral motor. Pernah lihat anak yang kesulitan mengunyah, keripik misalnya, atau ayam goreng? Betul, itu juga salah satu contoh nyata oral motornya belum kokoh.

Orang tua akan menemui banyak sekali kosakata  yang tidak pada tempatnya, atau artikulasi yang salah. Jika kedapatan seperti itu, segeralah koreksi. Misal anak mengucapkan eskrim dengan eskrip. Orang tua bisa mengoreksi dengan memberi penekanan pada huruf "m", menjadi: eskrimmmmm. Dan, jangan membiasakan anak berucap dengan kata-kata yang tidak umum. Sebagai contoh: maem atau mamam, sebaiknya diubah menjadi makan. 

Terakhir, terimalah anak-anak dengan tangan terbuka bagaimanapun kondisinya. Dorong terus potensinya, jangan berkecil hati dengan kekurangan anak. Di luar sana ada banyak tokoh yang dulu pernah mengalami gangguan bahasa, sekarang malah jasanya digunakan di semua lini kehidupan. Tahu siapa salah satunya? Yup, Albert Einsten.



7 Comments

  1. Ternyata gangguan bicara bisa karena keturunan ya Mbak. Anak-anak kadang memgucapkan sesuatu seperti yang mereka dengar, padahal itu salah. Dan repotnya lagi, kalau dibenarkan kadang-kadang tidak mau. Hal itu bisa jadi termasuk dalam penyebab gangguan bicara juga ternyata.

    ReplyDelete
  2. Mbak tetap semangat dan doa terbaik untuk Wawa, puteri tercintanya yaa..
    Semoga semua baik-baik saja . Aamiin
    Anakku keduanya speech delay karena penggunaan dua bahasa. Anak pertama sampai 2 tahun di Sumut, jadi di rumah aku dan suami ngomong Jawa, kami ngomong Bahasa Indonesia ke dia, sementara pengasuh dan tetangga ngomong bahasa Melayu atau Batak.
    Jadi bingung dia...dan telat bicara jadinya.
    Anakku kedua sampai 2 tahun di Amerika, denger 2 bahasa Indonesia dan Inggris, alhasil telat juga ngomongnya.
    terima kasih untuk ulasan speech delaynya bermanfaat sekali ini

    ReplyDelete
  3. Iya mba, speech delay memang harus djadi perhatian serius dari orangtua. Semaki dini diketahui dan diberikan terapi pastinya semakin cepet teratasi ya. Btw tetep semangat ya mengasuh putri kesayangan.

    ReplyDelete
  4. Semoga semakin baik tumbuh kembang Wawa ya Mbak. Cucu kami Bara juga speech delay karena SPD (sensory processing disorder), gangguan pada panca indera untuk merespon stimuli. Sama-sama berjuang yaa untuk tumbuh kembang anak-anak kita...

    ReplyDelete
  5. Yuni sudah pernah membersamai tumbuh kembang adik bungsu, karena dia terlahir ketika Yuni sudah lulus SMA kala itu. Tapi, emang dasarnya Yuni juga lagi kuliah jadi tidak terlalu memperhatikan bagaimana tumbuh kembang dia. Mana orang tua Yuni dulu juga merantau ke negeri seberang. Adik bungsu yang masih balita diasuh oleh bibi. Jadi, Yuni nggak tahu kapan dia mulai belajar bicara. Dia mengalami speech delay atau nggak.

    Sedih sih. Tapi nggak papa. Saat Yuni pulang (karena pas kuliah, Yuni kos), fokus dan perhatian Yuni memang hanya untuk si bungsu. Jadi, sepertinya dia tidak merasa kekurangan perhatian. Atau sebenarnya dia kekurangan hanya tidak mau menunjukkan. Adik Yuni yang bungsu memang sukar mengekspresikan apa keinginannya kecuali jika dipancing oleh Mbak atau orang tuanya.

    Eh, jadi curhat.

    ReplyDelete
  6. Kalau dulu orang Jawa bilang, kadang antara pertumbuhan gigi, jalan dan bicara tidak selamanya bersamaan. Kadang jalan dan tumbuh gigi, ngomongnya belakangan. Seiring berjalannya waktu dan informasi ysng akura hibgga ada speech delay dan penanganannya. Semoga putri mb bisa segera diatasi untuk speech delaynya ya mba. Insha allah dgn sabar dan telaten bs ada solusi yg baik. Aamiin.

    ReplyDelete
  7. Bener banget mba. Kalau anak kita terlambat bicara tidak seperti anak seusianya. Kita jangan langsung-langsung marah kalau ada yang nengingatkan. Sebaiknya kita cek dengan ilmu. Bner ga orang itu bilang. Bner ga sesuai usianya. Biar enak ya ke kitanya dalam mebersamai anak dan tahu bagaimana menyikapinya

    ReplyDelete