6 Cara Jitu Agar Deadline Menyapih Tak Bikin Stres


source: freepik.com

Saat bayi sudah mulai mendekati 24 bulan, biasanya ibu akan mulai khawatir dengan semakin dekatnya waktu menyapih. Bagaimana caranya, apa yang harus dilakukan, dan lain-lain. Kadang, hal ini tidak sadar justru meningkatkan level stress ibu. Padahal, aktivitas menyapih ini seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan. Bukankah dulu kita memulai proses penyusuan dengan cinta?

Dengan menyapih, ibu memberi kesempatan pada bayi untuk lebih mengenal dan mengkonsumsi lebih banyak variasi makanan dan ini tentu mempunyai efek positif untuk mendorong tumbuh kembangnya. Ada banyak metode dalam menyapih sebetulnya. Yang perlu diingat oleh ibu dan keluarga adalah, proses menyapih harus dilakukan senyaman mungkin bagi bayi dan ibu terutama. Maka, sebisa mungkin hindari melakukan oles-oles pahitan atau lipstik dengan tujuan agar si kecil enggan menyusu. Karena akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi bayi. Menciderai psikis sekaligus menanamkan cara-cara tidak jujur kepada bayi. Untuk itu, ada 6 cara jitu dalam aktivitas menyapih yang perlu ibu ketahui:

 1. Jangan berpatokan pada waktu.

Usia 24 bulan itu bukan deadline yang jika kita melewati batas waktu itu akan ada akibat yang membahayakan anak. No. Just relax, tapi tetap berusaha.

 2. Perbaiki mindset.

Mantapkan niat dan sikap ibu. Jika ibu masih menyimpan ragu dan khawatir untuk menyapih, anak bisa membaca hal ini. Insting anak ASI sangat sensitif loh.

3. Libatkan peran anggota keluarga yang lain.

 Misal, sebelum tidur bermain dulu dengan ayah atau nenek atau anggota keluarga yang lain. Sampai waktunya capek dan tidur sendiri tanpa minta ASI. Ini maksudnya untuk pengalihan. Tapi kalaupun anak masih merengek minta ASI sebaiknya tetap diberikan. Kembali pada prinsip "menyapih senyaman mungkin".

source: freepik.com


4. Isi kegiatan sebelum tidur dengan aktivitas yang menyenangkan.

Misal membaca buku, mendongeng, bermain bayangan, bermain boneka dan lain-lain. Agar anak memahami bahwa ada aktivitas lain yang sama menyenangkannya dengan minum ASI.

5. Sounding.

Aktivitas memahamkan anak melalui komunikasi verbal ini bukan hanya dilakukan menjelang tidur. Tapi sebaiknya juga setiap saat. Saat anak bermain, makan, menonton tivi, ibu bisa menyelipkan pesan tentang aktivitas positif selain menyusu.

6. Apresiasi.

Berilah penghargaan kepada si kecil saat ia berhasil melewati satu step dalam proses menyapih, apapun itu. Sekalipun hanya pujian. Misal saat ia berhasil tidur tanpa menyusu, ibu bisa katakan: wah anak hebat, sekarang bisa bobok tanpa mimik ASI. Ini bisa meningkatkan kepercayaan diri si kecil, dan tentu saja akan semakin menambah semangatnya untuk bisa menyapih sendiri.


Sejatinya yang perlu kita fahami dalam proses menyusui adalah, bahwa ibu dan keluarga sedang melaksanakan perintah Allah untuk menyusukan selama 2 tahun. Dan ketika waktu menyapih telah tiba, maka telah paripurna juga kewajiban yang dibebankan kepada kita.
Bagaimana ibu, sudah siap untuk menyapih?

1 Comments

  1. Tipsnya ngenah banget kak, hal yang selama ini kurang aku perhatikan ternyata harus diperhatikan makasih ya mbak

    ReplyDelete