Build Positively Childhood

 
Personal doc: waiting for sunset at bandengan beach, Jepara

Apa sih hal yang paling kita ingat dari masa kecil di kampung dulu? Dapur tradisional dengan tungku dan kayu bakar? Atau bermain lumpur di sawah? Semua hal yang kita alami di masa kecil seolah terekam jelas dan menyisakan jejak memori yang selalu bisa kita ceritakan dengan jelas. Artinya, kita bisa mengingat itu dengan sangat baik. Dan sadar atau tidak, memori masa kecil itu terhubung dengan banyak hal di kehidupan saat ini loh. Bisa jadi soal kebiasaan, sudut pandang, cara membuat keputusan, cara menilai sesuatu, kemampuan menghargai dan lain-lain.

Endapan memori, bisa menjadi pemicu kecenderungan akan hobi atau kesukaan. Bahkan lebih jauh lagi, misi hidup. Seorang bule berprofesi sebagai chef dessert pernah diwawancara. Dia famous sebagai spesialis dessert berbahan dairy (susu sapi), dia juga pemilik gerai dessert jenis ini di Paris, Perancis.

Dalam sebuah talk show sang host bertanya, "mengapa kamu sangat tertarik mengeksplor dairy? Padahal tanpa menjadikannya bermacam-macam dessert pun produk dairy tetap punya konsumen sendiri."
Dia lalu menjawabnya dengan sebuah kilas balik.
"Ayah saya seorang peternak sapi, setiap pagi saya diizinkan memerah susu sapi, memandikan sapi, bahkan kadang ikut membantu proses kelahiran bayi-bayi sapi. Dan ibu saya sangat piawai membuat bermacam-macam kue. Semua kue yang dibuat ibu pasti lezat. Saya sering membantu ibu membuat banyak pie, atau mengantarkan hadiah kepada tetangga berupa kue pie. Dan memori itu mengendap hingga saat ini. Jadi setiap saya melihat susu, saya akan teringat perjuangan ayah. Lalu setiap saya melihat kue-kue lezat saya akan teringat ibu. Sehingga bagi saya susu dan dessert adalah harta karun, barang yang sangat berharga dan tak ternilai. Bukan karena gizinya atau rasanya yang enak, tapi karena kenangan yang tertanam dalam hati saya begitu kuat. Itulah mengapa saya sangat antusias dengan apa yang saya lakukan hari ini."


Personal doc: building sand castle at teluk awur beach, Jepara

See? Betapa endapan memori akan sesuatu yang menyenangkan menjadi pendorong terhadap kecenderungan anak-anak. Diusia kanak-kanak mereka yang sangat singkat ini, tugas orang tua adalah menciptakan sebanyak mungkin memori menyenangkan tentang beragam hal. Praktisnya anak sebaiknya dipaparkan dengan banyak aktivitas  berbeda. Terdengar ribet dan melelahkan? Memang. Tapi ini adalah bagian dari sebuah proses membangun karakter dan imunitas mental anak.

Beberapa hal ini bisa orang tua lakukan untuk menciptakan memori baik terhadap anak:

1. Sentuhan

Banyak pakar merekomendasikan kontak fisik, sebagai upaya membangun kedekatan anak dengan orang tua. Efek skin to skin akan membantu mengeluarkan hormon bahagia. Nah, hormon bahagia ini akan merekam lebih banyak momen yang bisa memicu kemunculannya dan memberi sinyal sebagai memori yang harus disimpan jangka panjang. Sentuhan dalam hal ini bisa dengan membelai lembut kepala dan wajah anak, memeluk atau bahkan memijat.

2. Melakukan aktivitas bersama

Sadar atau tidak, pasti ada hal menyenangkan yang pernah terjadi saat kita kecil dan kejadian itu bisa kita ingat sampai saat ini. Yang sederhana misalnya, membeli es dung-dung yang lewat setiap hari sambil digandeng ayah. Hal ini mungkin sangat sepele, tapi berangkat dari memori baik ini kita bisa mengingat betapa dulu kita yang kecil itu begitu dekat dengan sosok ayah. 

Personal doc: sunday morning activity

3. Membangun kebiasaan baik

Adakah aktivitas yang selalu kita kerjakan pada waktu dan jam yang sama hingga saat ini? misalnya sholat. Kebiasaan sholat tepat waktu, begitu azan terdengar kita sudah siap dengan atribut untuk sholat. Atau bahkan saat sedang uzur sehingga harus "libur", kita selalu merasa ada yang kurang. Yap, begitulah memori baik bekerja. Sebut saja bahwa kebiasaan sholat tepat waktu ini adalah kebiasaan yang dulu dibangun oleh orang tua kita dan tersimpan sebagai memori baik.

4. Menyusui

Menyusui, secara langsung ataupun tidak langsung diakui sebagai proses membangun memori baik. Anak dan ibu sekaligus bisa merasakan kedekatan yang intens. Hormon laktasi dan oksitosin bekerja bersinergi menciptakan momen bahagia sehingga proses menyusui juga ikut menjadi bagian dalam membangun kedekatan anak dan orang tua, terutama ibu. 

 ******

Orang tua dan anak dilahirkan di jaman yang berbeda. Sehingga proses tumbuh dan berkembang pun akan jauh berbeda. Orang-orang tua dahulu tak perlu khawatir akan paparan negatif dari gadget, karena anak-anak (baca: kita) lebih sering bermain di kebun, sawah atau kali. Pun begitu dengan keinginan di masa depan. Bagi generasi 80an mungkin profesi paling top adalah dokter. Tapi coba tanyakan anak-anak dari generasi Alpha (kelahiran 2011-2024), apa profesi yang paling keren saat ini? Absolutely, most of them would say: youtuber! 

Sudah jauh sekali jaman ini berkembang. Sehingga kita tidak punya pilihan untuk menjadi orang tua yang biasa-biasa saja. Pilihan kita hanya mengupgrade diri, belajar dan terus belajar menjadi orang tua.


Kita tidak bisa memaksa anak-anak untuk menyukai apa yang disukai orang tuanya, tapi kita bisa membantu menemukan apa yang akan mereka sukai.

Salam,
Hasiah Zen


24 Comments

  1. Benar sekali Mbak. Membangun memori indah tentang masa kanak-kanak sangat penting, agar kelak mereka dewasa, semua kenangan indah itu akan menjadi motivasi dalam menjalani hidupnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita selalu bisa menjadi motivator yang baik untuk anak2

      Delete
  2. Sukaa dengan kalimat terakhirnya. Setuju bangeet, kita sebagai orang tua tidak bisa memaksa anak untuk menyukai apa yang kita suka. Kita hanya perlu membantu mereka mengetahui apa yang disukai mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum,menjadi pengingat untuk diri saya sendiri sebenarnya mbak

      Delete
  3. SUka banget sama quote terakhir, jadi orang tua yaa memang pada dasarnya adalah membantu anak menemukan jalannya ya. Aku baper baca soal menyusui nih mbak, sebentar lagi soalnya aku harus nyapih si bungsu nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah semoga lancar dan dimudahkan ya mbak proses menyapihnya

      Delete
  4. Kita tidak bisa memaksa anak menyukai apa yang disukai orang tuanya tapi kita bisa membantu menemukan apa ang meeka sukai. Reminder buat saya ini..memberi kenangan terbaik untuk anak-anak demi hidupnya kelak

    ReplyDelete
  5. Quote-nya bagus banget mba, memang itulah tugas kita membantu mereka menemukan passion mereka sendiri. Btw, aku juga setuju dgn endapan memori bisa memengaruhi kehidupan kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kita yang dewasa inipun dibentuk kepribadiannya oleh endapan memori

      Delete
  6. Anak-anakku udah besar-besar. Kadang kepikir juga, pengen nanya, apa kesan mereka terhadap pengasuhan kami. Jangan-jangan mereka merasa dipaksakan menyukai sesuatu, walaupun maksud kami baik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, gimana..gimana mb? Sharing dong hasil diskusinya, pengen tau juga

      Delete
  7. Baca ini, yuni jadi terbayang masa kecil yuni. Main di sawah, cebur-ceburan di sungai, pekarangan rumah yang luas buat main sama teman-teman di samping kanan-kiri rumah. Rasanya tu happy banget. Hehehe

    Ada juga pas momment jalan sama emak-bapak. Padahal bukan tempat wisata yang wah, tapi ya berkesan banget dengan canda dan tawa kami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya, justru yang diingat hal2 sepele tapi memorable banget ya

      Delete
  8. setuju sama quote terakhir. kita sebagai orangtua harus bisa mendukung apa yang anak citakan. selama itu hal yang positif dan benar tidak melenceng dari agama, kenapa enggak kan? masyaallah bagus tulisannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita bisa menjadi orang tua idaman anak2 kita ya

      Delete
  9. Ini yang masih terus saya pelajari.Tidak memaksakan yang saya sukai, tapi mengenalkan.Ya kali aja mereka juga suka. Cuma memang nggak gampang, karena harus memisahkan dengan obsesi orangtua. Sekarang sedang pada fase belajar mendukung yg anak-anak suka..Kadang ya agak gimana karen kesukaannya bener2 beda sama kita ortunya. Tapi selama positif ya kenapa enggak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya, butuh sensitifitas tinggi untuk mengenali apakah anak2 memang suka atau hanya sekedar memenuhi obsesi orang tua. Reminder untuk saya

      Delete
  10. Quote terakhir itu aku banget. Dulu pernah maksain anakku untuk belajar dengan caraku. Ternyata dia gak happy. Setelah sadar, aku arahkan dia mencari kesukaannya. Sejak itu dia happy dan skillnya terasah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Noted. HAPPY. Kalo happy, anak2 jadi ikhlas menjalaninya ya mbak

      Delete
  11. Hiks hiks.. Ketampol sendiri nih. Ada ga ya, kebiasaan atau kegiatan yang akan dikenang anak2 dengan saya, ibunya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. InsyaAllah selalu ada kesempatan untuk membangun kembali memori baik mbak :)

      Delete
  12. Nice quote...Sampai sekarang saya masih terkenang kenakalan masa kecil. Hihi begitu melekat dan berkesan. Mksh mb artikelnya keren...

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah, pasti masa kecilnya indah sekali nih

      Delete