Hanya Dengan Kata-kata

June 15, 2020


source of freepik.com


menahan diri dari kelebihan berbicara akan menutup pintu-pintu syaitan

(Ibnul Qayyim rahimahullah)




Bagi mereka yang mengetahui pengaruh dan dampak kata-kata, pasti akan sangat hati-hati berucap. Diantara ulama ada yang mengatakan sesungguhnya Allah menciptakan alam ini dengan kata-kata, mengangkat langit dengan kata-kata, menciptakan Adam dengan kata-kata, karena kata-kata kita bisa hidup dan karena kata-kata kita bisa menjadi hina. Karena kata-kata di hari kiamat timbangan seseorang menjadi berat, karena kata-kata timbangan seseorang menjadi ringan.


Kita bisa lanjutkan lebih jauh uraian itu. Sebab kata-kata, seseorang bisa masuk surga, sebab kata-kata seseorang bisa masuk neraka. Rasulullah bersabda sungguh seorang hamba mengeluarkan 1 kata yang diridhoi Allah yang ia tidak sadar sama sekali perkataan itu tapi Allah mengangkat derajatnya dengan perkataannya itu, dan sungguh seorang hamba mengeluarkan 1 kata yang menyebabkan kemurkaan Allah yang ia tidak sadar sama sekali perkataan itu tapi kemudian karena perkataan itu ia dimasukkan ke dalam jahanam (HR. Bukhari dan Muslim).


Kata-kata termasuk dalam kategori syahwat, sama saja dengan makanan atau syahwat seksual. Itu sebabnya puasa dari berkata-kata bagi umat terdahulu menjadi salah satu bentuk ibadah yang bisa mendekatkan seseorang kepada Allah. Perhatikan bagaimana firman Allah tentang Maryam, yang artinya: "katakanlah sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini." (QS.Maryam: 26).


Tapi kemudian ibadah seperti itu dihapuskan dari syariat yang dibawa Rasulullah. Ketika manusia merasa sombong dengan dirinya, merasa bangga dengan akal pikirannya, maka sikap diam menjadi keharusan untuk memelihara hati dari beragam penyimpangan.


baca juga: Tujuh Bakat Ibu, Siapakah Saya?


Ubaidillah bin Abi Jafar mengatakan, bila seseorang berbicara di sebuah majelis, lalu ia terkagum sendiri dengan apa yang ia katakan, hendaklah ia diam. Jika ia diam, lalu ia merasa kagum dengan diamnya, maka bicaralah. (Syiar A'lam Nubala 6/10).


Sikap diam dalam kondisi seperti itu, pilihan yang sulit. Tidak banyak orang bisa melakukannya kecuali mereka yang tahu betapa besar dampak dari sebuah kata-kata yang diucapkan. Dan tahu bahwa ada perkataan yang bisa menjadi sebab kecelakaan dan kesengsaraan. Khalaf bin Ismail pernah berkata pada Sofyan Tsauri Rohimahullah: "ya Sofyan aku lihat engkau bila berbicara sangat semangat sampai aku ingin menghentikanmu. Tapi bila engkau diam kau seperti orang mati."

Sofyan mengatakan, "Apakah engkau tidak tahu, bahwa ucapan-ucapan kata itu adalah fitnah ujian." Kekuatan Sufyan ada pada kemampuan mengendalikan diri untuk berdiam, dikala ia sedang semangat mengeluarkan kata-kata. Pada saat seperti itulah situasinya digambarkan oleh Abdullah Bin Abu Zakariya, tidak ada sesuatu ibadah yang bisa menjadi obat bagi seorang hamba yang lebih berat daripada diam atau menahan diri dari berkata. (Syiar A'lam Nubala 5/86).


Atau perkataan Fudhail bin Iyadh Rahimahullah, "bukan Haji dan bukan jihad, yang lebih berat kecuali menahan lisan untuk berbicara. Dan tak ada orang yang sangat gelisah melebihi orang yang berusaha menahan lisannya."

source of freepik.com


Itu sebabnya para ulama juga banyak menasehati kita untuk mampu mengendalikan lisan. Para Shalafus Saleh bukan sedikit berbicara, tetapi mereka tidak suka berlebihan dalam bicara. Sebab mereka mengerti sekali, salah besar bila menggunakan lisan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Lebih dari itu, menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah kelebihan berbicara sama saja membuka pintu keburukan bagi seseorang. Dan keburukan itu seluruhnya adalah celah masuknya syetan. "Karenanya menahan diri dari kelebihan berbicara akan menutup pintu-pintu setan itu," jelas Ibnu Qoyyim.


Penting diingat meski kita dianjurkan untuk memelihara dan hati-hati dalam berbicara ada kalanya kita dianjurkan dan bahkan wajib untuk berbicara. Adakalanya perkataan itu menyebabkan seseorang mendapatkan petunjuk, dan mengalami perubahan dari kondisi yang tidak baik menjadi lebih baik. Ibrahim bin Adham dahulunya adalah orang yang sangat gemar berburu. Ia bercerita, "suatu ketika aku keluar untuk berburu tapi ada seseorang untuk yang menegurku dengan mengatakan, "bukan untuk urusan ini engkau diciptakan. Bukan untuk hal ini engkau diperintahkan." Aku terkejut dan berhenti, lalu aku katakan,"cukup...cukup, aku didatangi seseorang yang mengingatkan dari Rabb semesta alam."

Ibu, ingin tahu bagaimana memori bekerja membangun karakter anak? klik di sini: Saya Orang Tua Hebat!


Tentu saja, berburu dalam hal ini sebenarnya adalah pekerjaan yang mubah saja. Tapi bila dilakukan berlebihan, menjadi tidak ada gunanya dan membawa mudharat. Dan yang penting diingat dalam kisah ini, perkataan yang pendek tapi di momen yang tepat dan penting begitu bermanfaat bagi pihak lain.


Dengarkanlah pengalaman lain dari Abu Sulaiman Addarani. "Aku pernah hadir di sebuah forum dan mendengarkan ceramah yang begitu menyentuh hati. Tapi ketika aku bangkit dan pergi, seperti tak ada lagi yang tersisa dari pembicaraan yang kudengar tadi. Kemudian aku kembali lagi ke majelis itu untuk kedua kalinya. Seperti semula, perkataan yang kudengar sangat menyentuh hati tapi bedanya, perkataan yang kudengar itu tetap kurasakan pengaruhnya setelah aku pergi dalam melakukan perjalanan. Hingga akhirnya aku datang lagi ke tempat itu untuk ketiga kalinya, dan mendengarkan perkataan yang begitu menyentuh hati, hingga pengaruhnya kurasakan sampai aku tiba di rumah.


Kisah ini menandakan ada perkataan yang justru dibutuhkan untuk disampaikan berulang kali kepada seseorang. Hanya dengan beberapa kata, Yusuf 'alaihissalam bisa masuk penjara beberapa tahun. Hanya dengan beberapa kata 'Usaibah mampu menggugah keimanan Hamzah bin Abdul Muthalib. Dengan beberapa kalimat yang dituliskan seseorang dalam penutup tulisan misalnya "ini karya tulis seseorang yang fakir atas ampunan Rabbnya," bisa menggugah kesadaran banyak membacanya. Apakah lisan kita ini bisa menjadi jembatan keridhaan Allah yang menuntun pemiliknya memasuki surga?




Salam,
Hasiah Zen.

You Might Also Like

0 Comments

Social Media

Member of

Pasukan Blogger @JoeraganArtikel

KEB ( Komunitas Emak Blogger)

Mom Influencer Indonesia

IIDN (Ibu Ibu Doyan Nulis)

Popular Posts