The Show Must Go On

Source of Canva, doc of fbg OTC


Apa yang emak lakukan saat ndoro putri kesayangan antusias untuk live facebook, sudah bikin persiapan ini itu, eh pas detik-detik naik panggung malah terjadi insiden yang menyebabkan dia nangis guling-guling?

Begitulah yang terjadi hari rabu lalu. Di kelas OTC (online talent club for children) yang kami ikuti, anak-anak diberi tugas untuk tampil memperkenalkan diri dan boleh menampilkan apapun. Wah kakak termasuk yang antusias kalo diminta tampil begini. Hanya saja yang perlu menjadi catatan saya adalah, bahwa ini tampil secara online. Bukan offline.

Tak ada panggung betulan, tak ada mikrofon, tak ada kursi penonton serta riuh tepuk tangan seperti dia biasa tampil di pentas sekolah.

Saya dan kakak Wawa menyepakati untuk tampil di hari Rabu jam 10 pagi. Maksudnya supaya bisa bikin persiapan dulu. Sejak senin kakak menonton penampilan teman-temannya satu grup, dan sepertinya dia bisa menangkap ide apa yang ingin ditampilkan. Lalu mengusulkan kepada saya untuk tampil sambil mendongeng dengan boneka dan menampikan proses pembuatan finger painting.

Saya mencatat ide tersebut, kemudian membuat list kebutuhan. Seharian saya dan kakak berdiskusi tentang tema yang akan disajikan dalam dongeng. Ada banyak ide yang ingin dia ceritakan, tentang menjaga kebersihan, makan makanan sehat, menyayangi adik, hingga virus corona, hahaha. Dan saya pasrahkan sepenuhnya, karena memang saya tahu betul kakak pencerita yang baik, baik di sekolah ataupun di rumah.


dokpri: finger paint karya Wawa


Sebelum tampil saya sudah menyiapkan keperluannya, termasuk cat untuk finger painting. Meski persiapan sudah mapan, tapi kemungkinan gagal selalu ada. Satu menit menjelang tampil, terjadilah insiden di luar dugaan. Adik bayi yang penasaran dengan warna warni cat dalam wadah, tak sengaja menumpahkannya ke karpet.
Duaaaarr! Pecah tangis si kakak. Sesenggukan dia minta mangkoknya diisi lagi, tapi catnya sudah habis. Dan memang sudah tak ada lagi cadangan.
 
Kejadian ini sangat mempengaruhi kontrol emosi dan moodnya. Then, tentu saja ngaruh ke semua isi kepala. Yang tadinya mau menceritakan apa, jadi lupa semua, wkwkwkwk.
Kami tawarkan untuk menunda tampilnya, karena kasihan lihat dia masih sesenggukan. Tapi dia menolak, dia tetap ingin tampil saat itu karena sudah dijadwal, katanya.

Ah, memang ya anak-anak itu unik. Saya kira setelah insiden itu dia akan menolak tampil, tapi ternyata tidak. Dia tetap menyanggupi untuk live walaupun dengan ide yang berantakan dan mood yang belum stabil.

Dari video live 21 menit itu, saya mengamati aktivitas yang dia lakukan, diantaranya:

 

- Ambassador 

Masih banyak dibantu emaknya sih, karena ini pengalaman pertama tampil live. Tapi sejauh ini dia mulai belajar memandu jalannya live.

 

- Communicator 

Di video itu terlihat sekali dia sedang tidak mau banyak bicara, lagi-lagi mood sangat mempengaruhi.
 

- Interpreteur 

Dia mampu menjelaskan proses pembuatan finger painting flamingo meskipun tidak mempraktikannya secara langsung.

 

- Seller 

Hanya sedikit yang terlihat saat dia mempraktikkan cara jerapah kecil yang bermain perosotan dipunggung jerapah besar.

 

- Operator 

Hanya terlihat ketika di awal saat memilih icon awan untuk tampil.





Dari aktivitas ini, sifat bakat yang saya amati muncul yaitu:

- Empathy

Perasa, mudah menangis. Hal kecil saja bisa menggangu mood. Ekpresif dalam mengungkapkan pengalaman.

 

- Deliberative

Sangat berhati-hati dalam memilih apa yang akan ditampilkan.

 

- Responsibility

Bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia rencanakan.

 

- Self assurance

Percaya diri. Yakin dengan pilihannya. Dia memilih sendiri apa yang ingin ditampilkan dan merasa capable dengan hal tersebut.

 

- Communication

Suka bercerita. Saat persiapan, dia terus mengulang-ulang cerita yang ingin ditampilkan, meskipun ketika di depan kamera akhirnya lebih banyak diam. Tapi saya mengira ini karena moodnya yang belum kembali setelah gagal menampilkan proses finger painting.


Satu quote yang saya sematkan baik-baik dalam pengamatan kali ini:
jangan mudah memberi label pada anak.


Salam,
Hasiah Zen

1 Comments

  1. Kece banget bun terobosannya! Bisa ditiru untuk para orang tua muda lainnya hahaha

    ReplyDelete