Menata Harta Karun


 
source of fbg OTC. Icon aktivitas yang berhasil dilakukan Wawa pekan ini
Akhir Juni ini waktunya bongkar dan beres-beres barang. Bukan cuma karena penugasan di grup Online Talent Club, tapi karena memang sudah waktunya. Kita berencana moving out bulan depan! Ssst, baru rencana. Hihihi.

Untuk kegiatan kali ini, saya sengaja mengajak kakak fokus pada mainan dulu saja. Mengapa tidak membereskan yang lain? Karena untuk barang seperti baju, buku, dan yang lain, saya biasanya bereskan berkala. Setiap satu atau dua bulan pasti ada yang harus pindah rumah. Sehingga pakaian dan aksesoris yang ada di lemari hanya yang sering dipakai. Tapi untuk menyeleksi mainan, huffftthh ini tantangan berat untuk saya dan kakak.

Anak-anak selalu beranggapan mainan adalah harta karun. Sehingga sulit sekali bagi mereka untuk merelakan satu saja mainannya berpindah rumah. Dulu, waktu dia masih 3 atau 4 tahun mainannya sering bertebaran dimana-mana bahkan sampai ke teras. Sehingga seringkali hilang diambil anak-anak yang lewat. Dia sedih dengan kejadian itu.
Tapi meski sering diingatkan untuk membereskan mainan sehabis bermain, tetap saja dia sering lupa. Sampai suatu kali saya menyapu semua mainan yang berserakan, keluar rumah. Dia marah, bergegas memungut mainannya sambil menangis.
Sejak itu, kalau dia lupa membereskan mainannya saya cukup mengambil sapu dan dengan gerakan menyapu saja sudah cukup membuat dia teriak-teriak.
"Jangan umi! nanti kakak bereskan!"

Pernah juga bonekanya tertinggal di rumah eyang di Yogya. Saya kira dia tidak menyadari, karena dia punya banyak boneka. Ternyata tidak. Malah setiap hari ditanya. Walaupun lama-lama akhirnya dia lupa juga. Tapi yang paling membekas buat saya soal interaksi Wawa dengan mainan justru kejadian pekan lalu.

Kejadian soal rumah boneka yang sukses membuat dia ogah membaca buku selama 2 hari. Dia menolak mendengarkan saya membacakan cerita. Bahkan saat saya tetap membacakan buku untuk adiknya, dia menangis keras. Tantrum.

Saya bingung dong, dalem hati bilang "kok gini amat". Dibujuk dengan berbagai carapun mental. Tidak mempan. Dia tetap ngotot. Bahkan baru kali ini saya melihat dia kekeuh sekali menolak.

Ternyata, muara dari semua konflik dua hari itu yang justru sukses memunculkan bakat command dalam dirinya adalah soal rumah boneka yang rusak dan saya menolak memperbaikinya.

 
dokpri: belajar mendata barang-barang pribadi

Saya sadar tak punya skill memperbaiki benda-benda. Daripada bertambah rusak bukannya lebih baik jika orang lain yang mengerjakan, dalam hal ini abinya. Saya tawarkan untuk menunggu akhir pekan, saat abinya senggang. Karena memang biasanya yang rajin betulin barang-barang rusak ya beliau.

Tapi yang justru tertangkap oleh kakak hanya bagian penolakannya. Tepatnya saat saya menolak memperbaiki. Huffftthh. Sudut pandang yang unik. Begitulah. 

Nah berikut sifat bakat yang muncul ke permukaan hasil dari circle interaksi dengan beres-beres mainan pekan ini:

restorative: alih-alih membuang mainan yang rusak, dia malah mencari cara bagaimana memperbaikinya.
strategic: berinisiatif menawarkan win win solution saat saya menolak memperbaiki mainannya yang rusak meskipun ternyata itu bukan klimaks dari ngambegnya.
responsibility: menyadari kepemilikan penuh atas mainan yang ada di rak
input: si pengumpul harta karun. Yang orang lain lihat, barangkali hanya barang bekas. Tapi tidak bagi kakak. Dia punya banyak koleksi box bekas: bekas hp, jam tangan, dll
•empathy: hanya karena mainan yang mau dibuangpun dia bisa tersentuh dan merasa kasihan. Diakhiri dengan menangis, selalu.
command: berani mengambi resiko membenturkan keinginannya dengan keinginan saya. Yang ini berkesan wow bagi saya, karena ini pertama kalinya kakak berani ngotot.

Kali ini saya merasa serius sekali mengamati aktivitas anak-anak. Barangkali karena kegiatan ini termasuk tantangan paling berat. Selama ini saya seperti menunggu waktu begini. Waktu untuk berdamai dengan perkara yang sering bikin saya keder. Soal mainan. Harta karunnya anak-anak.

Tapi kalo yang berikut ini harta karun saya nih. Ini dia tips menata mainan ala saya:

1. Sediakan tempat mainan yang aman, memadai dan mudah dijangkau anak-anak.

Tidak terlalu tinggi khawatir roboh dan menciderai, juga tidak terlalu rendah. Bisa menampung berbagai jenis mainan sekaligus sehingga akan mempermudah anak untuk belajar merapikan.

2. Cek berkala tempat mainan.

Adakah barang-barang selain mainan yang masuk ke dalam rak? Pengalaman saya sendiri seringkali menemukan benda benda aneh di rak mainan. Kadang ada gunting, pensil warna, bahkan garpu makan juga pernah nyelip dan tertimbun disitu
 
dokpri: Memberi label pada rak mainan

3. Beri label sesuai jenis mainan dan arahkan anak untuk menyimpan mainan sesuai jenisnya.

Agar anak bertanggung jawab dengan benda miliknya, saya menuliskan label di salah satu rak. Misalnya: mainan ade naila. Ini penting, agar anak memiliki rasa kepemilikan. Dan yang lebih penting, rak mainan jadi rapi. Sehingga dengan mudah menemukan mainan sesuai jenisnya. 

4. Ingatkan anak untuk membereskan mainan jika sudah selesai dimainkan. 
Selain mengelompokkan, anak juga perlu belajar bertanggung jawab dengan membereskan sendiri mainannya. Tentu semuanya dimulai dengan bertahap. Di awal dulu, saya yang lebih sering aktif membereskan mainan. Lalu mulai melibatkan kakak membantu beres-beres, setelah itu saya hanya membantu sedikit, sekarang dia mulai terbiasa membereskan sendiri mainannya. Untuk anak yang sudah lebih besar, dalam hal ini karena kakak sudah 6 tahun, jadi saya mulai memperkenalkan dengan konsekuensi. Misalnya saat dia lupa membereskan mainan dan sudah diingatkan tapi tetap abai, maka saya boleh menyapu semua mainannya keluar. Hehe, aduh ini panjang prosesnya. Plis jangan ujug-ujug ditiru.


5. Belajar memperbaiki mainan 
Ini penting sekali bagi saya. Peran ibu tuh ternyata dituntut untuk benar-benar sempurna di mata anak. Bisa ini dan itu. Yang paling berkesan adalah saat saya dan kakak berdamai, setelah sebelumnya saya menolak membetulkan mainan dan kakak menolak membaca buku. Lucu juga kalau diingat, dua-duanya sama kekeuh, wkwkwkwk. Tapi saat saya tanya: jadi kakak sekarang pinginnya umi gimana?

Dia menjawab, "kakak maunya umi juga bisa betulin mainan kakak, seperti abi."
Dan seketika saya meleleh.

Belajar mencintai itu sederhana, engkau mencintai apa yang dicintainya.

Salam, Hasiah Zen

0 Comments