Halo Doodle!

Sejujurnya saya tak tahu persis bedanya menggambar doodle dengan menggambar yang lain, yang bukan doodle maksudnya. Karena Wawa kenal menggambar, dan suka menggambar sejak usia 2 tahun. Bahkan saya masih menyimpan foto-foto hasil menggambarnya. Hari ini, saat tugas menulis jurnal tentang hasil pengamatan aktivitas menggambar doodle harus di selesaikan, saya merasa perlu menengok kembali foto-foto hasil karya Wawa.
Entahlah, tapi saya merasa penting. Barangkali bisa mengundang ide untuk mampir, ya kan? Dengan hasil coretannya yang sudah sebagus ini sekarang dan dibandingkan dengan yang dulu, saya mengamati pola yang terus berkembang. Dari caranya membuat garis, memberi ornamen dan volume, menuangkan situasi hingga gambar yang dia buat punya cerita sendiri. 

dokpri: My first dodle.

Saya ingat betul, gambar pertama yang dia buat dan memiliki cerita adalah gambar sekumpulan lingkaran dan oval, memiliki mata dan mulut. Semuanya diberi ekspresi bahagia. Waktu saya tanya, “wah bagus sekali, ini gambar apa? Dia menjawab, “ini kentang, umi. Kentangnya lagi gembira soalnya dimakan habis sama Wawa.
Ya, dia fans garis keras makanan berbahan kentang! Lupa sejak kapan mulainya, tapi yang jelas sejak usia 3 tahun itu setiap hari dia seperti ketagihan aneka snack dari kentang. Risoles isi kentang, pergedel, bakwan kentang, kare kentang, dan banyak lagi. Ahahahaha, ini sih sebenernya yang jadi alasan utama saya belajar masak. Padahal aslinya ga bisa masak. Ssssttt..!

Kembali soal menggambar. Aktivitas visual art bagi Wawa bukan hal yang asing, ini barangkali sedikit banyak juga karena kedekatannya dengan abinya. Karena suami setiap hari berkutat dengan gambar aneka produk dan desain kemasan. Kadang suami bekerja sambil memangku anak ini. Menceritakan sedang membuat apa, gambar apa yang sedang diwarnai, kenapa memilih warna itu, kenapa diberi ornamen lingkaran dll, misalnya. Atau kadang juga menceritakan kisah sambil menggambar. Dulu saya pernah mengabadikan kolaborasi bapak anak ini dalam sebuah tulisan tentang teknik fotonovela yang kami gunakan dalam menceritakan kisah nabi Yunus, bisa klik di sini: 

Tapi, untuk doodle ini baru pertama kalinya Wawa belajar. Sebuah kemajuan dia mau mengikuti apa yang disampaikan mas Ghazy. Karena beberapa kali, Wawa kadang tidak tertarik melakukan hal yang menurutnya dia sudah bisa. Menggambar dalam hal ini. Padahal dia belum tahu kalo yang mau digambar itu, doodle yang on the fact dia belum kena. Di kelas OTC inilah saya baru menyadari jika kebiasaan Wawa yang demikian itu karena mungkin dia memiliki bakat focus dan discipline. Tidak bisa dengan mudah menerima hal baru, apalagi diminta untuk mencoba melakukan. Ditambah lagi, barangkali karena dia merasa “kenapa aku harus menggambar doodle? Aku sudah bisa menggambar kok.”

dokpri: halo doodle!

Tahu ga Wawa tahan berapa lama menyimak mas Ghazy? 15 menit saja! Sisanya sudah “melehoy”, mulai bosan dan minta menggambar objek lain yang dia inginkan. Itulah kenapa di lembar hasil praktik meniru mas Ghazy, hasil doodlenya Wawa cuma seuprit, hehe. 
Mas Ghazy belom selesai memberi mentoring, dia sudah pindah kertas. Menggambar perahu berbendera Indonesia dan laut, serta orang yang mau melompat ke laut. Sambil menceritakan bahwa kapal itu adalah kapal Indonesia yang hampir tenggelam karena badai angin dan ombak. Lalu awak kapal memutuskan untuk lompat ke dalam laut.  Entah darimana dia mendengar cerita serupa ini, tapi sejujurnya saya senang karena berarti imajinasinya terus berkembang. Dari sini, melalui aktivitas creator, designer dan interpreter saya bisa melihat bakat ideation dan communicationnya mulai tumbuh.

Saya kira, proses menggambar Wawa soal doodle itu sudah selesai. Ternyata belum euy. Besok paginya dia mencari kertas gambar doodle yang kemarin dia kerjakan itu, hihihihi. Ternyata ingin diberi warna. Biar indah, katanya. Wah, dia berhasil melakukan aktivitas Quality Controller daaaaan ini dia si maximizer akhirnya keluar! 

Alhamdulillah. Senang rasanya bisa mempelajari ilmu tentang talent mapping ini. Karena setiap laku anak, menjadi catatan penting bagi orang tua untuk diperhatikan. Sayang sekali melewatkan satu saja aktivitas tanpa mencatatnya sebagai proses pembentukan bakat dirinya.

***********


Terus nak, teruslah bertumbuh. Kembangkan imajinasimu, terbangkan yang tinggi. Tak ada yang boleh merenggutnya. Meskipun itu kami, orangtuamu.


Salam,
Hasiah Zen

0 Comments