Membangun Istana Pasir Dahulu, Boleh Bermimpi Kemudian

dokpri: let's try a new experience

Ini cuplikan memori tentang amak. Ibu kandung sahabat saya. Juga ibu angkat rasa ibu kandung bagi saya. Jauh sebelum mengenal Ibu Profesional, saya hanya mengenal amak sebagai sebuah role model Ibu sejati. Yang waktu itu tak banyak dalam circle kehidupan saya perempuan seperti amak.

Meski hanya mengenyam pendidikan dasar, tapi amak perempuan berdedikasi dan visioner. Tak pernah malu belajar kepada siapapun tanpa pandang usia dan status sosial, dan dengan energi yang sama meneruskan keilmuannya kepada siapa saja. Karena itu amak selalu tampak wah di mata saya, dan bertahun-tahun berlalu saya baru mengenal istilah Ibu profesional. Barangkali patutlah saya sematkan amak sebagai role model.

Lalu, apakah sekarang setelah mengenal Ibu Profesional saya akan meng"amak"kan diri saya? Hahahaha, tentu saja tidak. Bukankah setiap kita diciptakan telah diinstal pula dengan keunikan masing-masing? Setuju lah ya.

Jadi, bagaimana saya menterjemahkan Ibu Profesional kebanggaan keluarga dalam vibes seorang perempuan, istri dan ibu, era 5.0?


Ibu Profesional di sini, maksudnya bukan hanya ibu yang bekerja di ranah publik. Tapi, baik ibu bekerja atau ibu rumah tangga, semuanya layak mendapat gelar Ibu Profesional. Yakni mereka yang faham akan 3 peran utamanya, sebagai perempuan, istri dan ibu. Tahu kelemahan diri dan mau belajar menjadi lebih baik. Memahami misi ilahiyah yang dititipkan kepadanya, juga mampu menterjemahkannya kedalam langkah-langkah implementatif. 
source of fbg pulau cahaya


Langkah implementatif dimulai dari ring terdekat yakni keluarga inti, suami dan anak-anak. Karena, bukankah suami dan anak-anak adalah yang paling berhak atas diri seorang Ibu?! Sekaligus menjadi pihak yang merasakan dampak langsung atas aktivitas publik dan domestik kita.

Bagaimana agar Ibu bisa menjalankan perannya dengan optimal?


Setiap manusia diutus ke bumi dengan menyandang misi masing-masing. Kemurnian iman (fitrah) akan membimbing kita untuk menemukan jawaban atas misi spesifik hidup kita. Mengapa Allah mengutus saya menjadi istrinya A? Mengapa Allah mengutus saya untuk menjadi ibu anak-anak saya saat ini? Mengapa Allah mengutus saya menjadi bagian dari lingkungan masyarakat yang demikian ini?

Dengan merenungkan itu, kita akan tahu darimana kita harus mulai dan amunisi apa saja yang kita butuhkan. Berikutnya, belajar mengenali dan mengoptimakan potensi fitrah yang telah Allah sematkan.

Bagaimana saya akan membangun istana pasir di wahana bermain kali ini?


Untuk membangun istana pasir kita akan membutuhkan sekop. Sekop berguna untuk menghimpun, menggali, mengeruk dan menimbun pasir sebelum siap dibentuk menjadi istana impian.

Dalam analoginya, sekop diibaratkan mindset. Mindset yang benar akan menentukan cara pandang dan tindakan. Salah dalam menentukan mindset, akan kacau pula perspektif dan aksi yang kita lakukan.

Sekop tak akan berguna jika tak ada bahan utama dalam membuat istana kali ini, yak dialah pasir. Pasir bisa dianalogikan sebagai aksi-aksi kecil, atau langkah-langkah implementatif untuk menuju a better me.

Menyusun step by step sederhana, dalam rangka mengumpulkannya secara bersama-sama sebagai bahan baku utama mendirikan istana. Langkah implementatif yang menjadi target saya 6 bulan ke depan:

Target untuk diri sendiri.
- increase dosis belajar hal yang prioritas.
- belanja fashion seperlunya, belanja ilmu sepentingnya.
- belajar diet yang benar, jangan zolim pada tubuh. Sehat itu harus, langsing itu bonus.
- mengurangi mengeluh, perbanyak syukur.
- olahraga.
- perbaiki kandang waktu

Target sebagai istri:
- belajar make up
- melakukan perawatan tubuh bersama-sama
- meningkatkan komunikasi positif dengan keluarga suami.
- membuat list makanan favorit dan snack favorit suami.
- memaksimalkan peran sebagai asisten suami di ranah publik.

Target sebagai Ibu:
- mengurangi ngomel unfaedah
- memperbanyak kontak fisik ke anak-anak
- memperbanyak waktu berdua dengan kakak
- tidak memarahi kakak di depan adik
- turunkan volume "bernyanyi"
- memperbanyak mendampingi daripada menasihati.

source of fbg pulau cahaya


Setelah sekop dan pasir, kita juga membutuhkan air. Agar istana ini kokoh, mengikat bulir-bulir pasir menjadi tembok yang berdiri tegak. Jika bulir pasir mengering, ia akan rapuh dan mudah diterbangkan angin. Inilah peran mentor, pembimbing, pengawas, pendamping sekaligus pengingat.

Bidik orang yang tepat untuk menjadi pembimbing dan pendamping dalam melaksanakan step by step di atas sehingga langkah kita terikat dan tidak berbelok jauh dari target. Bisa suami, anak, teman dekat, mentor, konselor, atau siapa saja yang kita percaya. Dalam hal ini saya mempercayakan peran ini pada suami, anak-anak, dan mentor belajar saya dalam bidang2 yang selama ini saya tekuni.


Dengan alat dan bahan yang sudah terpapar rinci di atas, mudah-mudahan istana pasir saya akan bisa berdiri dengan indah.





Wonosobo, 1 Agustus 2020
Hasiah Zen




0 Comments