Ibu-Ibu Bicara Pelanggaran


Peraturan ada untuk dilanggar. Jiaaahahahaha, ini moto yang sering jadi kambing hitam anak sekolah jadul. Hayo siapa yang dulu ikut-ikutan pakai tagline begitu waktu dapet hukuman dari guru BP? Cung!

Beda anak sekolah beda juga emak-emak. Pernah nih di WAG ibu-ibu yang saya ikuti, ada member yang melempar wacana tentang hal rawan perdebatan. Barangkali sebenarnya ibu A ini tak bermaksud untuk menjadikannya perdebatan. Tapi begitulah, beda orang beda juga isi kepala. Kita tak bisa mencegah orang lain untuk tidak merespon negatif. Berikutnya bisa ditebak dong, argumen yang debat-able itu terus beranak dan melebar kemana-mana. Lalu ibu B, C, D dan beberapa ibu lain merasa tak nyaman dengan situasi yang tak kondusif di grup, auto left group tanpa permisi.

Sebagai member di grup yang sama, tanpa mereka bisik-bisik juga kita tentu bisa membuat hipotesa alur konflik yang demikian. Emak-emak jangan dilawan, naluri detektifnya menyaingi Sherlock Holmes. Jujur kacang ijo, awal-awal saya shock dengan fenomena left grup tanpa permisi. Jadi bener ya, energi tu menular. Kita sebar energi positif, yang lain ikut kebagian aura baik. Kita sebar energi negatif, yakin lah yang lain pasti nyamber secepat kilat juga. Dalam kacamata saya sih, orang left grup tanpa permisi itu sudah perbuatan niradab. Ibarat kita kedatangan tamu, eh tamunya nyelonong pulang tanpa assalamualaikum.

Padahal, yang demikian tak perlu terjadi seandainya masing-masing member di grup punya kesadaran untuk menghindari pelanggaran. Setiap rumah punya peraturan, dan peraturan ada untuk ditaati. Jika kita merasa keberatan dengan peraturan, ya legowo saja jika yang punya rumah bertindak. Sebagai orang yang numpang duduk mbok tahu diri lah ya. Anda sopan kami segan, tagline ala warteg. Wkwkwkwk.

Tapi, ada sedikit yang mengganjal difikiran saya tentang COC. Barangkali karena poin2 yang tergolong pelanggaran ini cukup gamblang, sebetulnya mudah saja untuk menghindari hal tersebut. Prinsip di IIP kan semua boleh kecuali yang tidak boleh.

Soal konsekuensi. Karena IIP adalah komunitas belajar, jadi konsekuensi yang berlaku tentunya berkaitan dengan proses perbaikan terhadap pelanggaran yang dibuat dong. Saya penasaran, adakah arahan tentang teknis memberi konsekuensi yang mendidik kepada member baru dan tentunya menimbulkan efek jera. Misal nih, menjatuhkan SP1 di ruang publik sesaat begitu pelanggaran terjadi (di WAG all member misalnya), berarti disaksikan semua member kan?! Sejujurnya saya sangsi teknik begini dibenarkan dalam mendidik ibu-ibu. Yah, meskipun demikian saya sendiri pernah menyaksikan prosesi yang sadis ini dan membekas. Grrrrr.

Sehingga setelah itu saya bertekad, berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan pelanggaran. Dan menjadi support system yang baik bagi teman-teman satu komunitas. Saya memilih menjadi ibu yang belajar dengan cinta, mengingatkan dengan cinta dan mendampingi dengan cinta.

It's okay for doing a mistakes, as long as you learn from this. (Septi Peni Wulandani)

0 Comments