Life of Kangkung, Aktivitas 8 OTC batch 1




Anak cenderung akan menyukai apa yang sering dilakukan orang tuanya. Betul ga bu? Apalagi kalo si anak sering terlibat langsung. Ini karena orang tua adalah circle terdekat dalam kehidupan anak. Itulah kenapa, kalau circle terdekatnya nenek/kakek/om/tante maka anak juga akan cenderung menyukai kesukaan orang di dalam lingkaran tersebut.

Kurikulum pekan ini, Wawa diminta menanam sesuatu. Wah kalo yang ini sudah pasti dia semangat dan antusias. Sebab aktivitas menanam dan merawat tanaman termasuk rutinitas harian, baik bagi kami orang tuanya atau Wawa sendiri.

Judul aktivitas Wawa adalah Life of Kangkung. Hehe. Yak tul, kita mau menanam kangkung nih. Kebetulan masih punya kurleb 50 gram benih kangkung siap tanam. Tapi, emak mau coba ngajak kakak bereksperimen. Kalo menanam dengan media tanah kan dia sudah fasih banget tuh step by stepnya. Bagaimana kalau kita coba dengan media lain?

 
dokpri: alat dan bahan menanam kangkung hidroponik sederhana
 
Tadinya pingin minta abinya pasangin instalasi hidroponik. Gini-gini, emak dan bapaknya Wawa dulu pernah jadi mentor hidroponik level RW loh, wkwkwk. Back to the topic, pas mau pasang instalasi eh nyari pompa akuariumnya ga nemu. Syeediih. Ya sudah, kita pakai cara yang sederhana saja dulu ya. Pakai baskom!

Sebelum memulai, seperti biasa Wawa dikasih tontonan yang relevan. Kali ini tentang salah satu teknik urban farming, hidroponik. Sambil menjelaskan kenapa kita perlu belajar tentang ini, dan juga memperlihatkan kepada Wawa bahwa dibanyak negara selain Indonesia, hidroponik menjadi metode prioritas dalam gerakan menghijaukan kota.

dokpri: step by step menanam kangkung
 
Dia antusias saat menonton? Yes. Banyak bertanya? Yes. Apakah berbinar-binar? Yes.

Yuk eksekusi. Dari sejak menyiapkan peralatan yang semuanya dicomot dari dapur, dilakukan sendiri oleh Wawa. Umi hanya memberikan arahan tentang apa-apa saja alat dan bahan serta bagaimana proses menanamnya. Hingga tadi siang, waktu memindahkan si kangkung dari lemari gelap ke halaman depan yang berlimpah cahaya, semua dilakukan oleh Wawa.

Dan bisa saya simpulkan, dari 4 aktivitas dalam kurikulum kali ini semuanya bisa dilaksanakan dengan baik oleh kakak. Thumb up.


 
Ah jadi, apa yang kami lihat dari aktivitas go green ini?
Pertama, pada kurikulum aktivitas-aktivitas sebelumnya saya melihat Wawa hanya mengikuti arahan tanpa banyak bertanya. Bisa jadi karena aktivitas sebelumnya termasuk hal baru sehingga dia berada  pada tahap mengenal. Atau bisa jadi memang kurang menarik perhatiannya.
Namun, pada aktivitas kali ini dia sangat ramai dan banyak bertanya. Kenapa pakai kapas? Kenapa harus dikasih micin? Kok tanamnya di air? Ga boleh kena matahari ya? Bijinya kok berubah bentuknya? Itu ada biji yang ga berkecambah, mati ya mi? Dan seterusnya.

Sehingga saya melihat full of antusias dia ada di sini. Di aktivitas sebelumnya misalnya waktu membuat desain canva, saya kesulitan melihat bakat analytical. Dan ternyata si analytical muncul penuh di aktivitas go green ini. Yeeeaaay!!

Kedua, saya menemukan ada bakat communication justru pada aktivitas ini. Hahaha. Bibitnya diajak ngobrol terus!
Cepet tumbuh ya kung (maksudnya kangkung).
Bye kangkung, udah difoto nih kamu balik lagi dalem lemari ya.

Baiklah, jadi pengalaman berekspresi dengan kata-kata ga harus sama manusia ya. Yang terpenting kita menyampaikan dengan bahasa yang tulus. Seperti jernihnya hati anak-anak. Note for me.

Tanaman juga makhluk Allah. Dia hidup, bernafas, dan berkata-kata dengan bahasanya sendiri. Sayangilah apa-apa yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.
 
 
Wonosobo, 8 Agustus 2020
Hasiah Zen



0 Comments