Jejak Belajar di Ibu Profesional


source of freepik.com


Burung nuri, akan berkumpul dengan kawanan burung nuri. Mustahil burung nuri akan menyelinap diantara barisan burung gagak. Begitu hakikatnya, seorang pembelajar akan berkumpul dengan pembelajar. Pembelajar yang gigih, akan jua dipertemukan dengan sesamanya. Sudah sunnatullah.

Begitu saya sadari bahwa saya harus mulai berbenah diri sebagai seorang istri dan ibu dari insan istimewa, Allah lalu menghubungkan saya dengan komunitas belajar ini. Ibu Profesional. Wadah belajar yang membantu saya menemukan seutuhnya siapa diri saya.

Kata bu Septi, di dunia ini tidak ada yang salah dengan sebuah pilihan. Kamu memilih menjadi ibu yang begini2 saja, itu juga tidak salah. Tapi, kamu menjadi ibu yang lebih baik, yang mau belajar, yang mau memperbaiki diri. Itu pilihan yang lebih benar.

Sebuah diksi sederhana namun tegas. Sebagai gambaran identitas ibu pembelajar. Bahwa menjadi ibu sejatinya bukan tentang melahirkan dan menyusui saja. Itu kodrat. Tapi peran sebagai desainer peradaban, sebagai pengemban amanah pendidik anak-anak dan generasi, adalah tantangan yang jauh lebih besar.

Wahai diriku, maafkan aku yang dulu abai. Tak ambil pusing dengan sejatinya peran diri di turunkan di muka bumi. Sibuk dengan urusan sendiri yang tak banyak berdampak pada diri dan keluarga, utamanya sebagai bukti pertanggung jawaban kelak di akhirat.

Bersyukur dipertemukan dengan komunitas ini. Membuat saya menyadari bahwa dorongan dari dalam yang selama ini seolah terus menuntut untuk "santapan" baru, menurut pak Dodik itu disebut dengan inner motivation. Seorang yang memiliki inner motivation, setidaknya sudah mendapat 1 lapis kekuatan. Untuk apa? Untuk terus belajar, memperbaiki diri, mempersembahkan karya, dan menebar kemanfaatan bagi keluarga dan sesama. Sementara lapis kekuatan yang berikutnya adalah lingkungan, tentu dengan frekuensi yang sama. Dan di sinilah akhirnya. Di forum-forum belajar Ibu Profesional, saya mendapat teman belajar yang sangat saya cintai. Tak sekedar satu frekuensi, juga satu misi. Dan iklim belajar yang dinamis, selalu berganti guru, berganti suasana, tema dan lain-lain tentu saja menambah antusias dalam belajar.
 

Yang tak kalah penting, bukankah kita perlu menjalani segala sesuatu dengan bahagia?


Wonosobo, 23 Agustus 2020

Hasiah Zen




0 Comments