Self Wake Boarding, Mengenali Prioritas Ilmu



Bismillahi walhamdulillah.
Disela aktivitas domestik dan publik yang cukup deras pekan ini, saya bersyukur tetap bisa menaklukkan tantangan Wake Boarding minggu ketiga. Yeaaayy. Terima kasih diriku, sudah mau melangkah sampai kesini. 

 
 
Anak-anak dan orang tua adalah komponen inti dalam sebuah keluarga. Anak memberi insight kepada orang tua, juga sebaliknya. Sehingga yang terjadi adalah interaksi dua arah. Bagaimana jika salah satu tak menjalankan perannya dengan baik? Tentu saja yang terjadi adalah keluarga menjadi tidak seimbang. Tak ada yang mengisi peran di salah satu komponen.

Ah, bukankah persoalan ini juga yang banyak dialami keluarga modern? Kekosongan peran. Dalam bahasa sederhana, tidak hadirnya orang tua baik ayah ataupun ibu dalam peran pengasuhan. Ada banyak hal yang menjadi faktor, salah satunya yaitu inferiorisme orang tua.

Orang tua dan anak dilahirkan di jaman yang berbeda. Sehingga jelas pendekatan keorangtuaan, wawasan, dan konflik dalam kehidupan sehari-hari juga berbeda. Tapi justru di sinilah tantangan bagi orang tua modern. Karena saya mengetahui dengan pasti bahwa vibes menjadi orang tua gen alpha berbeda dengan jaman dimana saya dilahirkan, maka pilihan saya hanyalah menyesuaikan diri, belajar dan terus belajar. Menyamakan frekuensi dengan masa saat ini, masa dimana anak-anak saya terlahir dan saya memainkan peran sebagai orang tua.

Dan karena itu juga, saya punya alasan untuk berubah. Saya sadar menjadi ibu yang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masa tidaklah mudah. Maka kemudian saya mengurai kebutuhan saya akan ilmu ke dalam beberapa kelompok, yang ini adalah inti dari ulasan panjang lebar wahana Wake Boarding yaitu peta pembelajaran.

 
 
Pengejawantahan sebuah ide, tentu di dukung oleh support system dan stake holder yang memadai. Mustahil rasanya jika ujug-ujug ide terlaksana tanpa kita tahu faktor pengusungnya. Ibarat untuk menjadi seorang ahli perbakingan, tentu ada kursus memasak khusus yang harus diikuti, mentor yang satu frekuensi, peralatan yang mendukung, dana yang mencukupi, lingkungan yang kondusif dan banyak lagi.

Begitu juga saya, untuk menjalani peran sebagai seorang perempuan, istri dan ibu yang mengemban amanah dari Allah, maka saya perlu memetakan beberapa poin keilmuan yang menjadi prioritas, dan tak lupa support systemnya.

Ilmu prioritas yang harus terus saya pelajari yaitu ilmu parenting dan pendidikan anak yang tentu saja berlandaskan Al-Qur'an dan Assunnah. Saya belajar dari beberapa guru diantaranya ibu Septi dan Pak Dodik, ibu Elly Risman dan keluarga, Ust Harry Santosa, Abah Ihsan, Ust Faudhil Azim, Ajo Bendry, Ustazah Diah Ummu Umar dan keluarga, dan lain-lain.

Ilmu prioritas yang berikutnya adalah manajemen kerumah tanggaan. Sejak wabah COVID melanda, tak ada lagi ART yang menemani saya beres-beres. Termasuk kegiatan "mengekspor" baju ke laundry pun sudah tak lagi dilakukan. Pertimbangannya karena preventif dan menekan pengeluaran, sudah jelas. karena itulah saya memutuskan mengikuti kelas dapur pintar. Saya butuh coach yang bisa melatih saya agar roda domestik tetap terlaksana sebagaimana mestinya, tapi dengan cara-cara yang irit tenaga dan waktu.

Karena penting bagi saya untuk dapat mengikat ilmu tersebut melalui tulisan, maka saya perlu belajar ilmu kepenulisan yang baik. Tak hanya itu, saya pun ingin banyak orang tua memiliki akses terhadap ilmu keorang tuaan dari para pakar ini, maka saya fikir saya perlu belajar ilmu tentang membuat konten baik visual, audio ataupun tulisan. Mulai dari ilmu membangun blog, membangun akun youtube, serta ilmu fotografi dan videografi. Dan semua ini adalah stake holder yang harus saya kuasai sebagai bagian dari support system peta pembelajaran saya.

Untuk ilmu tentang pendidikan anak, saat ini saya sedang mengikuti mentoring di Online Talent Club for Children. Saya juga masih aktif sebagai orang tua pembelajar di kelas orang tua SAI ( Sahabat Anak Indonesia). Dua komunitas belajar ini memberikan saya banyak sekali insight positif tentang menatar diri sebagai fasilitator belajar, sebelum menatar anak.

Apakah semuanya mulus? Ya ga juga. Kadang rasa jenuh dan lelah menghampiri. Sering juga kala bosan sudah hampir ke titik klimaks, saya kesulitan mengontrol porsi waktu untuk melakukan hobi. Kandang waktunya jadi berantakan. Kan..kan, efeknya jadi melebar kemana-mana. Tapi saya punya partner sebagai tempat berbagi dan saling merasa sekaligus social control sih, hehe. Hufftth, agak berat bagian yang ini. Karena setelah menyimak obrolan dapur Ibu episode 49 yang lalu, saya menyadari bahwa tantangan terbesar saya saat ini adalah mengubah mindset.

Mindset akan menentukan cara pandang. Bahwa setiap kesulitan sesungguhnya adalah tantangan untuk ditaklukkan. Satu konflik hadir, tandanya akan ada pelajaran baru yang bisa saya ambil. Dan tentu saja itu membuat diri saya menjadi lebih baik. Tak perlu berharap orang lain akan melakukan hal yang membuat saya bahagia, dan saya pun menyadari tak mungkin untuk membahagiakan semua orang. Karena bahagia hanya ada di dalam hati yang penuh syukur. Sayalah yang akan menciptakan kebahagiaan saya sendiri, lalu menularkannya kepada suami, anak-anak, teman, tetangga dan seterusnya.

Saya adalah perempuan, istri dan Ibu yang bahagia.

Wonosobo,15 Agustus 2020
Hasiah Zen

0 Comments