Membangun kembali bonding "yang retak"

Mak, sekarang ada berapa bocah di rumahmu? Bapaknya ga usah di hitung (eh..😀). Jadi, pernah ga saat emak melakukan sesuatu sama yang bontot terus kakaknya liat dan nyeletuk: dulu apa kakak juga begini sama mama?

Misal nih, emak lagi timang-timang si kecil sambil diceritain, terus kakaknya nyeletuk; dulu kakak di timang-timang sambil diceritain gitu juga ga?

Jujur mak, sebagai "alumni" PPD alias post partum depression, (nanti aku buatkan tulisan tentang mengenal baby blues dan PPD ), ditodong pertanyaan begitu seketika emak jadi nyeees. Soalnya dulu emak susah payah memberanikan diri nimang-nimang bayi sendiri dan ngerasa ga ada bonding sama bayi (si kakak maksudnya). Makanya ketika dia nanya begitu emak auto mendung 😔.

Sadar dengan kondisi

Tapi bukan berarti dulu emak terus jauh-jauhan sama bayi. Aku sadar dengan kondisiku waktu itu, aku sadar kalo aku "sakit". Lagipula resiko merantau yang jauh dari orang tua dan saudara, jadi mau ga mau harus mandiri urus bayi. Pelan-pelan aku sharing dengan suami. Aku bagikan ke dia apa yang aku tau soal baby blues dan PPD. Butuh waktu yang panjaaaaang untuk kita menyamakan frekuensi sampai akhirnya suami bisa legowo dengan kondisiku lalu memberi support sepenuhnya. Fiuuhh..

Nah persoalan berikutnya sih bukan pada aku dan suami, tapi antara aku dan si sulung yang terlanjur tumbuh jadi balita. Jadi dugaanku ketika pertanyaan "dulu kakak begitu ga?". Aku melihat seperti si kakak sedang menyadari sesuatu. Mungkin seperti kehilangan sepotong memori tentang adegan yang dilihatnya. Itu yang aku maksud dengan bonding yang retak.


Pertanyaannya: bisakah membangun kembali bonding dengan anak yang sudah terlanjur besar, dalam kasusku ini balita?
Jawabnya: bisa!

Kata bu Annisa Cahya Ningrum (psikolog) dalam kulwhapnya tentang melawan Post Partum Depression, tidak ada kata terlambat mak. Sesegera mungkin saat kita bangkit dari kondisi PPD, saat itu juga dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kita bisa membangun kembali bonding dengan anak. Libatkan diri dengan bermain bersama anak. Jadilah teman bermainnya. Sahabat terbaiknya.
Dulu ga sempat gendong-gendong, sekarang ya gendong aja kemana-mana (auto nyanyi 😆). Peluk setiap saat, kecup mesra tiap saat, ungkapkan dengan kata-kata "mama sayang banget sama kakak".
Yang berlalu biarlah berlalu.
Anak-anak butuh ibunya.
Percayalah anak-anak akan tetap menyayangi dan menerima ibunya, bagaimanapun kondisinya.
Peluk dari jauh untuk semua emak hebat.


0 Comments