Kepo, Julid dan Peduli itu Bedanya Setipis ATM!


"Jadi njenengan nulisnya di internet dapet duit ga mbak? Kalo saya mah daripada kerja sukarela gitu mending saya bikin TK di rumah, dapet duit. Sekolah tinggi eman-eman mbak." Komentar seseibu ketika dia bertanya soal "pekerjaan" saya.

Dilain kesempatan, dia lagi-lagi mengomentari soal HSnya si kakak: "kalo saya mah ga mau anak saya homeschooling, nanti ga bersosialisasi. Itu anak saya yang kecil 3 tahun aja saya sekolahin di **** fullday. Biar dia ga nyariin saya terus, repot saya mbak jadi ga bisa dinas luar kota."

Itu adalah awal interaksi saya dengan seorang tetangga. Maklum sebagai warga baru saya kadang masih malu-malu meong. Jadi lebih banyak diinterogasi dan dikomentarin, semacam ospek. Saya meyakinkan diri, perlu ekstra PD untuk menghadapi lingkungan baru dengan latar belakang masyarakat yang jelas berbeda dengan waktu saya tinggal di Bandung.


Kenali ciri: kepo, julid atau peduli?

Terkait tanya-tanya yang selalu datang dari lingkungan baru saya mengelompokkan menjadi 3 kriteria: itu yang nanya beneran kepo, memang peduli atau mau julid.
Percayalah, perlu jam terbang tinggi untuk jeli membedakan 3 kriteria itu (biar profesional maksudnya). Ikan cucut banyak lemak, lanjut mak.

Orang kepo, punya koleksi list pertanyaan yang sudah disiapin jauh hari. Mungkin saja dia nyelipin rollpaper segulungan gede dalam bajunya, lalu saat ngobrol tiba-tiba gulungan itu terjatuh begitu saja dan menggelinding melewati emak yang cuma bisa mangap. Ternganga, tidak menyangka ternyata dia sudah merencanakan semua ini. Skip, skip, lebay banget.

Sebenarnya orang kepo ga ada niatan julid, tapi juga bukan orang yang peduli. Dia cuma pingin tau aja. Sebatas itu. Setelah menuntaskan kekepoannya biasanya reaksinya ngeflat. Kebanyakan jadi "oh, ooo, atau ooohh".

Beda dengan orang yang peduli. Dari awal ngobrol pembawaannya udah santuy, adem, pendengar yang baik, kadang senyum tipis-tipis. Kita bawaannya pengen curhat kalo ketemu orang begini. Komentar yang dia berikan biasanya singkat, hati-hati dan santun.
Nah kalo orang julid nih, kita ngomong dikit eh nyolotnya banyakan dia. Misal: "iya bu, saya belanja buat MPASI adek." Terus biasanya dijawab: ih si ibu rajin banget bikin bubur sendiri, noh di warung banyak jual sasetan tinggal seduh 5 menit cepet, praktis. Njenengan jadi bisa ngerjain yang lain juga kan?! Tuh cucu saya makannya yang saset begitu malah jadi montok badannya."
Kalo ga diakhiri mungkin dia akan terus cuap-cuap sampai ekstrak manggis dijual sachetan.

Kendali itu kamu yang pegang, cantik!

Tidak semua yang orang katakan itu baik untuk kesehatan telinga kita. Maka tidak perlu ditelan seluruhnya komentar ga penting itu. Bahkan kita melakukan pekerjaan yang benar dan tidak mengganggu orang lainpun masih saja ada yang komentar negatif, yakan? Jadi gimana dong? Apa ga baper di komentarin terus?

Bagi saya, semua orang punya hak untuk berkomentar tentang apapun. Karena toh mereka bicara dengan mulutnya sendiri, kecuali sewa ya (ada gitu?). Artinya, yang menentukan akan diseperti apakan komentar negatif itu adalah kita sendiri.
Kita sendirilah yang berhak mengarahkan diri kita untuk bahagia atau bersedih, bukan orang lain. Mereka tidak punya hak sedikitpun untuk mengambil alih kendali atas diri kita.
Berbahagialah saat masih ada orang yang kepo dan peduli denganmu, tandanya kamu disukai. Lovable person!

Sementara orang julid sebenarnya adalah mereka yang tidak bahagia dengan dirinya, sejatinya dia ingin dipuji atas apa yang dilakukan. Maka, pujilah orang yang julid. Pujilah dia sesuai dengan apa yang dia julidkan padamu mak (kibas jilbab..)

Orang yang tahu banyak lebih bisa menahan diri dari berkomentar, daripada orang yang tidak tahu apa-apa. (Ummi Wawa).

Tetap cantik dan  jangan lupa bahagia!

2 Comments

  1. Wakakaka, setuju. Tidak semua yang kita dengar itu baik untuk kesehatan memang. So, abaikan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk mbak, treatment anti aging mahal. hahaha

      Delete