Hijrah itu mudah yang sulit itu istiqomah. Benarkah?


Kalaulah hijrah memang mudah, tentu Putri teman kami dulu tak perlu menunda menutup aurat hingga kelulusan sekolah tiba. Semata karena dia takut membebani ibunya. Izinkan saya membagikan kisah Putri, anak seorang buruh janda yang hidupnya kenyang dengan kemiskinan.


Dia dilahirkan dari keluarga sangat sederhana, ibunya buruh cuci dengan penghasilan tak menentu. Ayahnya kabur saat putri baru berusia 1 tahun. Dia cantik, berkulit putih cerah dengan lesung pipi.

Di suatu senin saat masa tunggu ijazah, teman-teman menyadari putri menghilang. Ia tak pernah hadir di sisa hari kelulusan.
Hingga suatu hari salah seorang teman mengabarkan bahwa Putri kini bekerja paruh waktu di pasar induk saat dini hari. Ia menjadi buruh juragan kentang. Mencatat dan memeriksa truk-truk yang bongkar muatan kentang setiap malam.
Tak mudah, sebab interaksinya dengan lawan jenis apalagi sopir-sopir truk luar kota yang kadang iseng. Dan hanya dia karyawan perempuan juragan kentang.
Tapi bagaimanapun Putri tak tega meminta uang untuk satu setel baju panjang lengkap dengan kerudung dan kaos kaki pada ibunya yang janda. Hingga akhirnya ia dapat menutup aurat sempurna di hari kelulusan, tapi fisiknya jelas merekam bekas-bekas kelelahan.
Hijrah itu mudah, yang sulit itu istiqomah. Its BIG NO!
Yang mudah itu bicara, tapi hijrah jelas tidak mudah. Dia butuh kesadaran yang diperjuangkan. Sebab hijrah melibatkan dirimu yang paripurna, bukan semata hijrah penampilan. Dari nampak rambut, jadi berhijab walaupun hijab lilit.
Fenomena artis berhijrah yang akhir-akhir ini menguatpun sama. Saya mencoba memahami bagaimana mereka meredam gengsi dengan mau duduk lesehan dalam majelis ilmu, menjadi pendengar sama seperti warga majelis lainnya. Mereka berusaha menyelipkan kesempatan diantara padatnya tawaran manggung yang berarti ikut memangkas pemasukan. Belum lagi menanggapi bisingnya netizen +62 tentang aktivitas baru mereka ini.
Ah, memang hijrah itu tidak mudah.
Lagi-lagi, sebab dia adalah kesadaran yang diperjuangkan. Sementara istiqomah? Ia adalah efek samping dari perjalanan hijrah yang tidak mudah. Juga barokah dari doa-doa: ya Allah istiqomahkanlah aku setelah hijrahku ini.
Biarlah Allah membantu kita berproses untuk istiqomah, sebab dia tau beratnya langkah yang harus kita tempuh untuk berhijrah.




Wonosobo,
Jumat Muharam.

0 Comments