Strategi Protes Ala Bocah




"Anak-anak itu jujur, ga pernah bohong. Hanya saja mereka belum bisa mengemas penyampaiannya dengan tepat."

Hari ini guru anakku kirim WA. "Mi ini kakak ga mau makan sama sekali, udah saya rayu sampai mau saya suapin dia masih nolak. Udah 4 hari ini kaya gini".

Saya baca sambil mengernyitkan alis. Nolak makan siang di sekolah sudah 4 hari?! Padahal di rumah dia makan ga ada masalah. Sayur oke, ikan/tahu/tempe/daging semua dimakan. Buah-buahan juga mau. Apalagi kalo liat saya dan suami makan buah bareng, wah dia senang sekali acara berebutnya.

Saya tidak menyalahkan gurunya yang gagal membujuk kakak untuk makan. Saya mencoba mengingat-ingat menu harian disekolah selama seminggu ini, seharusnya kakak tidak kesulitan untuk menghabiskannya, karena menu sekolahpun mirip-mirip dengan yang biasa dia makan di rumah. Karena penyebabnya belum jelas, sepertinya saya harus bertanya langsung dengan tuan putri.

Bagaimanapun, guru di sekolah hanyalah peran pendamping. Peran utama dalam pendidikan anak tetaplah orang tua.
"Kakak hari ini makan di sekolah duduknya sama siapa?"
"Ga sama siapa-siapa, kakak ga makan kok"
"Loh kenapa, apa makanannya kakak ga suka?"
"Suka"
"Terus?"
"Hmmm..." Sambil lanjut sepedaan.
Emak dicuekin gaes. Grrrrhhh.

Baiklah. Saya kemudian diskusi sama ustazahnya dan minta tolong untuk tetap mengajak dia makan seperti biasa bersama teman-temannya sambil saya memahamkan dia tentang kebiasaan makan siang di sekolah.

Berapa hari kemudian, ustazahnya kirim WA lagi: "mi, ini kakak tertidur lagi. Nanti kalo jemput sebaiknya pakai mobil saja, kasian kayanya ngantuk banget."

Perhatikan penekanan kata "lagi". Memang sudah 3 hari ini anak wedhok tidur mulu di kelas. Entah, padahal di rumah jam tidurnya cukup, tak ada faktor kelelahan atau sakit. So mbingungin kan?

Mainkan Insting ke-orangtuaan mu!

Saya coba diskusi dengan suami. Menyampaikan semua problem di sekolah, step by step dengan teliti. Berharap tak ada yang terlewatkan. Ya, memang untuk menemukan solusi harus tahu dulu akar masalahnya. Saya membuka kembali portofolio kakak. Menelusurinya satu-satu dan, aha! Ternyata kita pernah mengalami yang serupa ini. Beda konteks, tapi jalan ceritanya mirip ini.

Dulu menjelang disapih dari ASI, setiap saya minta dia untuk berhenti mimik kakak selalu marah lalu besoknya lanjut demam. Begitu terus, sehingga hampir setiap minggu dia demam. Akhirnya saya menyerah, menghentikan bujuk rayu agar dia menyapih dirinya sendiri. Ajaib, demamnya pun tak pernah datang lagi. Sampai dibulan ke 29 akhirnya si kakak bisa disapih dengan kesadaran sendiri tanpa oles-oles, tanpa drama dan tanpa demam. (Note: disini saya menyadari pentingnya jurnal tumbuh kembang atau portofolio)
Disitu kami mencatat, bisa jadi demam yang bolak balik datang itu adalah bentuk protes kakak kepada kami orangtuanya. Hanya, dia tak bisa mengatakan dengan jelas keinginannya dan ini mengganggu psikis. Sehingga ejawantahnya adalah demam. Setiap disounding untuk sapih, demam. Begitu berhenti disounding, demamnya hilang.

Oke baiklah, jadi saya sudah dapat kesimpulan bahwa mogok makan di sekolah dan sering ketiduran sejatinya kakak sedang melakukan protes kepada kami. Tapi protes atas apa, saya juga masih belum tahu. PR berikutnya adalah mengapresiasi protesnya. Berharap obrolan setelah ini bisa menemukan solusi, kami orangtua harus tahu apa yang salah dan harus kami perbaiki. Maka investigasi berikutnya pun dimulai.

"Kakak, memangnya enak ya tidur di karpet kelas? Kok kakak sekarang suka ketiduran?"
Tanyaku di sela-sela menemani kakak bermain.
"Kakak ngantuk mi, bosen belajar di kelas." Tring, emak dapet 1 poin.
"Menurut kakak belajar yang enggak bikin bosen itu yang gimana?"
"Kakak mau belajar sama umi aja di rumah".

Jleb!

We got the point!

Selama ini memang dia belajar di rumah sama saya dan bapaknya. Homeshooling. Tapi semenjak adiknya lahir (dan adeknya ini agak unik karena sama sekali ga mau ditaroh di kasur) jadilah akhirnya kakaknya kita sekolahkan di TK. Sekolahnyapun baru satu bulan setengah. Ternyata jauh di alam bawah sadarnya dia menolak disekolahkan formal, dia lebih memilih belajar di rumah sama umi dan abinya. Hanya mungkin, dia tidak mengerti bagaimana cara menyampaikan ini kepada kami. Sebab interaksi dengan teman-teman sebayanya di sekolah membuat dia nyaman sehingga ada rasa enggan untuk mogok sekolah.

Emak berlinang, merasa berdosa. Sambil memohon ampun kepada Allah semoga kejadian ini tidak menciderai fitrahnya. Kamipun meminta maaf kepada ananda.

Akhirnya kita sepakat, kakak tetap sekolah di TK dan silahkan izin kalo merasa sedang ingin belajar di rumah. Dan proses HS di rumah tetap berjalan seperti biasa hanya bergeser jamnya saja. Tidak ada lagi mogok makan siang dan ketiduran di kelas.
Saya berusaha memperbanyak waktu menemani kakak bermain, tetap sambil gendong dan menyusui adiknya. Adik bayinya juga sedikit-sedikit mulai mau bekerja sama. Dia tidak rewel ditaroh saat saya menemani kakaknya belajar, meskipun si bayik tetap menolak digendong sama suami atau ART di rumah.

Senang bisa mendampingi kakak dan adik bertumbuh. Eh bukan ya, sejatinya kamilah yang sedang bertumbuh menjadi orangtua. Orangtua, bukan orang tua. Sebab orangtua adalah mereka yang benar-benar melakukan peran pengasuhan, sementara orang tua tidak lebih hanya orang dewasa yang menua.
Begitulah and case closed!

0 Comments